Pelecehan Seksual Oknum Guru di Pinrang ke Anak di Bawah Umur Berujung Damai

Orang tua korban juga meminta pendampingan ke Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak (P2TP2A)  Kabupaten Pinrang untuk mengawal kasus ini. 

Penulis: Nining Angraeni | Editor: Ari Maryadi
Tribun Lampung
Ilustrasi korban pelecehan 

TRIBUNPINRANG.COM, PINRANG - Seorang anak dibawah umur menjadi korban pelecehan seksual yang dilakukan oknum guru sekolah dasar (SD) laki-laki inisial RS di Kecamatan Mattiro Bulu, Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan. 


Sebelumnya, orang tua korban telah melapor ke Polres Pinrang


Orang tua korban juga meminta pendampingan ke Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak (P2TP2A)  Kabupaten Pinrang untuk mengawal kasus ini. 


Setelah dilakukan penyidikan, oknum guru itu ditetapkan sebagai tersangka atas kasus pelecehan seksual


Tidak terima ditetapkan tersangka, oknum guru tersebut mengajukan pra peradilan di Pengadilan Negeri (PN) Pinrang


Dalam sidang putusan PN Pinrang, korban dinyatakan menang. Namun, belakangan diketahui, korban dan tersangka justru berdamai. 


Hal ini pun dipertanyakan oleh pihak Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Pinrang


Koordinator Pusat Pelayanan Terpadu Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Pinrang, Andi Bakhtiar Tombong mengaku heran. Mengapa tiba-tiba korban dan tersangka berdamai. 


"Dari awal, orang tua korban datang memohon kepada kami untuk melakukan pendampingan agar kasus ini bisa dikawal hingga selesai. Waktu itu, ibu korban datang menangis-menangis karena anaknya dilecehkan. Namun, kenapa tiba-tiba kasus ini berujung damai," katanya kepada Tribun Timur, Kamis (8/12/2022). 


Andi Bakhtiar Tombong pun mempertanyakan hal ini kepada orang tua korban. 


"Dari pengakuan orang tua korban, kalau mereka mengaku mengikuti arahan dari penyidik Polres Pinrang untuk damai. Dari situ, kami bingung. Apakah ada tekanan atau seperti apa. Kenapa tiba-tiba ingin berdamai," tuturnya. 


Dia menegaskan, kasus pelecahan seksual tidak bisa dibiarkan begitu saja. Mengingat korban bisa mengalami trauma mendalam. 


"Perilaku para pelaku pelecehan seksual tidak boleh dibiarkan atau dianggap remeh. Pasalnya, perilaku tersebut membuat psikis anak-anak atau korban terganggu. Korban bisa trauma mendalam dan akan mengingat kejadian itu terus menerus," tuturnya. 


"Dampak bagi korban itu luar biasa. Bisa saja korban tidak ingin bersosialisasi lagi di lingkungannya. Ada perasaan takut yang akan terus menghantui korban,"sambungnya.

Halaman
12
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved