Rusia vs Ukraina
Spesifikasi Drone Lancet Rusia, Ringan Tapi Jadi Mimpi Buruk Militer Ukraina
Demikian deskripsi Alexander Zakharov, kepala insinyur Zala Aero Group pengembang dron zala lencet Rusia kepada stasiun TV.
TRIBUN-TIMUR.COM - Pesawat mendekati targetnya dengan kecepatan sekitar 300 kilometer per jam, dan tidak ada tempat untuk melarikan diri.
Demikian deskripsi Alexander Zakharov, kepala insinyur Zala Aero Group pengembang dron zala lencet Rusia kepada stasiun TV saat mempublikasikan rekaman awal dron ini, tahun 2021 lalu.
Di palagan Rusia Versus Ukraina, rekaman dron lenset bekerja sering dipublikasikan militer dan kantor berita Rusia
Pesawat nirawak itu diklaim efektif mengeliminasi artileri berat militer ukraina.
Efektif karena harga dron lenset Rusia tak sebanding dengan peralatan militer ukraina.
Peralatan tempur berat ukraina seperti Msta B, radar kiriman negara negara Barat, hingga howitzer jadi sasaran empuk dron ini.
Baru baru ini ini kantor berita Rusia Ria Novosti mempublikan rekaman zala lancet mengeliminir artileri berat Ukraina M-109 buatan Amerika Serikat, Strela 10 buatan Jerman hingga 36D6 radar.
Dron ini bekerja lebih tenang daripada yang lain karena lebih ringan dan lebih ramping.
Zala lenset juga sarat amunisi seberat sekitar 12 kilogram dan muat di dalam kotak sempit di bodi pesawat buatan Zeta Aero, anak perusahaan Kalahnikov Group.
Dron dikembangkan Zala Aero.
Didesain menargetkan sasaran di darat, di udara dan/atau di air mengikuti persyaratan Angkatan Darat Rusia.
Sistem senjata baru ini memiliki jangkauan maksimum 40 kilometer dan dapat melakukan serangan presisi secara otonom.
Selain itu, drone telah dirancang untuk memberikan video dan citra real-time ke stasiun kendali.
Kendaraan udara mencakup modul intelijen, navigasi dan komunikasi.
Dron Zala Lancet diumumkan pertama kali pada akhir Juni 2019 di pameran Russian Army Expo. Saat itu uji coba pengembangan sudah selesai.
Pertama kali dron penyerang Lancet berhasil diluncurkan militer Rusia di Suriah yang menargetkan sasaran kelompok militan Idlib pada November 2020.
Dari situs Zeta Aero diperoleh data ringkas spesifikasi drone Zala Lancet 1 yang dilengkapi beberapa sistem bidik: sistem koordinat, elektro-optik, dan gabungan.
Kendaraan tak berawak juga memiliki saluran komunikasi video yang menyiarkan gambar target untuk mengonfirmasi keterlibatan target.
Zala Lancet 1 mampu menjangkau target di jarak 40 kilometer dari titik peluncurannya. Berat pesawat saat lepas landas maksimal 12 kilogram.
Selain itu, UAV ini dapat mengirimkan video, yang memungkinkan untuk mengonfirmasi keterlibatan target yang berhasil.
UAV Zala Lancet diyakini secara signifikan meningkatkan keamanan nasional negara Rusia, dan memiliki potensi ekspor.
Kini zala lancet memiliki ragam jenis varian. Yang dipublikasikan Rusia di ukraina jenis lancet generasi pertama.
Awal Mula Konflik Rusia vs Ukraina
Konflik Rusia Ukraina memasuki hari 153 Jumat (4/11/2022).
Rusia menyerang Ukraina dalam apa yang bisa menjadi awal perang di Eropa atas tuntutan Rusia untuk mengakhiri ekspansi NATO ke arah timur.
Invasi Rusia terjadi 24 Februari 2022 lalu.
Perang antara Ukraina dan Rusia bermula karena munculnya konflik di antara keduanya. Situasi mulai tidak terkendali sejak awal 2021.
Pada Januari 2021, Presiden Ukraina, Volodymyr Zelenskyy mendesak Presiden Amerika Serikat, Joe Biden untuk membiarkan Ukraina bergabung dengan NATO.
Hal ini membuat marah Rusia dan akhirnya mulai mengirim pasukan di dekat perbatasan Ukraina untuk "latihan" pada musim semi tahun lalu dan meningkatkannya selama musim gugur.
Pada Desember 2021, Amerika Serikat juga mulai memperingatkan pengerahan pasukan Rusia.
Presiden Biden memperingatkan sanksi berat jika Rusia menginvasi Ukraina.
Sementara itu, Rusia menuntut agar Barat memberikan jaminan yang mengikat secara hukum bahwa NATO tidak akan mengadakan kegiatan militer apa pun di Eropa Timur dan Ukraina.
Presiden Rusia, Vladimir Putin mengklaim Ukraina adalah boneka Barat dan bagaimana pun tidak pernah menjadi negara yang layak.
Dikutip dari Instagram @bbcnews, pemerintah Rusia pun memilih untuk menyerang Ukraina, yang resmi disampaikan oleh Presiden Rusia, Vladimir Putin sejak kemarin (24/2/2022).
Putin resmi menginvasi Ukraina dalam skala penuh dan mengumumkan invasi tersebut dalam pidato yang disiarkan televisi.
Rusia melancarkan serangan militer besar-besaran di negara Ukraina, melintasi perbatasannya dan membom sasaran militer.
Dikatakan bahwa tujuan serangan Rusia ke Ukraina adalah untuk demiliterisasi dan "denazifikasi" Ukraina.
Putin juga menegaskan bahwa siapa pun yang mencoba ikut campur akan mendapat balasan yang akan "mengakibatkan konsekuensi yang belum pernah dialami dalam sejarah".
Sejarah Ketegangan Rusia vs Ukraina
Ini bukan pertama kalinya ketegangan antara Rusia dan Ukraina terjadi dan memuncak.
Rusia telah menginvasi Ukraina pada 2014 ketika pemberontak yang didukung oleh Presiden Putin telah merebut sebagian besar wilayah timur Ukraina dan telah memerangi tentara Ukraina sejak saat itu. Pada saat itu, Rusia telah mencaplok Krimea.
Sebagai bekas republik Soviet, Ukraina memiliki ikatan sosial dan budaya yang mendalam dengan Rusia, dan bahasa Rusia digunakan secara luas di sana, tetapi sejak Rusia menginvasi pada 2014, hubungan tersebut telah rusak.
Dikutip dari ndtv.com, Rusia menyerang Ukraina ketika presidennya yang pro-Rusia digulingkan pada awal 2014 dan perang di timur itu telah merenggut lebih dari 14.000 nyawa.
Rusia dan Ukraina telah menandatangani perjanjian damai Minsk untuk menghentikan konflik bersenjata di Ukraina timur, termasuk wilayah Donbas.
Namun karena konflik terus berlanjut, Rusia menyatakan akan mengirim pasukan ke wilayah di mana konflik sedang terjadi.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Pesawat-mendekati-targetnya-dengan-kecepatan-sekitar-300-kilometer-per-jam.jpg)