Peanggaran HAM

Sidang Pelanggaran HAM Berat di Paniai, Hakim Kesal ke Mantan Wakapolres Paniai karena tidak Tegas

Pada sidang kali ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan mantan Wakapolres Paniai, Kompol (purn) Hanafi sebagai saksi.

Penulis: Muh. Sauki Maulana | Editor: Muh. Irham
Tribun Makassar/Muhammad Sauki Maulana
Mantan Wakapolres Paniai, Papua, Kompol (purn) Hanafi diihadirkan sebagai saksi dalam sidang pelanggaran HAM berat di Pengadilan Negeri Makassar, Kamis (6/10/2022). 

MAKASSAR, TRIBUN-TIMUR.COM - Sidang lanjutan pelanggaran HAM berat di Paniai, Papua tahun 2014 di Pengadilan Negeri Makassar, Jl RA Kartini memasuki pemeriksaan saksi.

Pada sidang kali ini, Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan mantan Wakapolres Paniai, Kompol (purn) Hanafi sebagai saksi.

Hanafi dihujani sejumlah pertanyaan dari majelis hakim, terutama soal kurang jelinya Polres Paniai dalam menangani warga sebelum terjadinya penembakan di lapangan Karel Gobai depan Koramil 1705 Enarotali Paniai.

"Katakanlah analisis intelijen Polres bisa itu (menganalisis sebelum kejadian), dan biasa kalau sudah ada kerumunan massa biasanya kepolisian itu kan ada memantau dan tidak tinggal diam, tapi ini kesannya apa ya. Apalagi saudara katakan banyak tidak tahunya," tanya majelis hakim, Kamis (6/10/2022).

Majelis hakim berpendapat, aparat kepolisian Polres Paniai terkesan menutupi dan tutup mata ketika peristiwa penembakan itu terjadi.

"Kesannya aparat pengamanan khususnya kepolisian ya tidak mau tahu. Terlepaslah dari tadi saudara katakan dilarang karena ada pasukan lain di sana, dan sebaganya. Kesannya apa ya, aparat kepolisian banyak tidak tahunya. Oke tanggal 8 (Desember, 2014) tapi masa iya seterusnya tidak tahu, katakanlah tanggal 9 atau 10," lanjutnya.

Di hadapan Hanafi, majelis hakim meminta agar dirinya tegas dalam memberi kesaksian.

"Mohon maaf, mestinya tegas dong. Tadi saudara ditanyakan setelah peristiwa ada berapa korban, masa sampai sekarang ini jawabanya korban sekitar tiga atau empat. Tolong bantu majelis untuk mengungkap fakta yang terjadi di Paniai itu seperti apa, majelis tidak tahu. Saksi ini kan sebagai mata dan telinga saat itu," ungkap Hakim.

Dalam kesaksian Hanafi, dirinya mengaku memantau kejadian pada tanggal 7 Desember 2014 di gunung tanah merah Paniai

Hanafi menambahkan, dirinya bersama anggota Polres untuk mengecek lokasi, karena malam diputuskan kembali.

"Informasi saat itu (7 Desember 2014) dari kepala distrik ada yang lakukan pemukulan memakai pakaian loreng. Setelah itu saya minta agar korban di-BAP tapi kata kepala distrik (Paniai Timur) agar korban pulang dulu, dilanjut pagi (8 Desember)," katanya.

Dalam dakwaan, tanggal 8 Desember itu, massa dari warga sipil sudah mendatangi lapangan Karel Gobai, Paniai tepat depan Koramil 1705 Enarotali. Tidak berselang lama, peristiwa penembakan pun terjadi.

"Tadi saudara saksi mengatakan tanggal 7 (Desember) malam agar anak-anak yang menjadi korban penganiayaan dibawa ke rumah sakit. Apakah tiga atau empat anak yang menjadi korban ini adalah anak-anak asli Papua," tanya majelis hakim ke saksi.

"Iya, mohon ijin hakim, jadi yang antar anak-anak itu ke rumah sakit bukan saya tapi perintah saya mengantarkan. Tetapi korban itu (penganiayaan di gunung tanah merah) asli anak-anak Papua," jawab saksi.

Dalam proses persidangan ini, selain saksi eks Wakapolres Paniai, Kompol (purn) Hanafi, pihak Jaksa juga hadirkan eks Kapolres Paniai, AKBP (purn) Daniel T. Prionggo.

Diketahui, saksi pertama diperiksa atau dimintai kesaksiannya dari pukul 10.00 Wita hingga pukul 13.30 Wita. Sidang pun skorsing sampai pukul 14.00 Wita dan lalu dilanjutkan pemeriksaan saksi Daniel.

Sidang ini dengan agenda pemeriksaan saksi-saksi, dipimpin Hakim Ketua, Sutisna Sawati, dan hakim anggota, Abd. Rahman Karim dan tiga dari hakim Ad Hoc, Siti Noor Laila, Robert Pasaribu dan Sofi R. Dewi.

Sementara itu, tim Jaksa yang hadir dari Direktur Pelanggaran HAM Berat, Erryl Prima Putera Agoes, N. Rahmat, Sudardi, Melly Suranta Ginting, S. Yunior Ayatullah, Reinhart Marbun, dan Dody W. L. Silalahi.(*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved