Headline Tribun Timur

Tragedi Kanjuruhan, Polisi Langgar Aturan FIFA Terkait Penggunaan Gas Air Mata

Ahmad Sahroni menyesalkan terjadinya kerusuhan suporter sepak bola usai laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan.

Editor: Hasriyani Latif
SURYA/Purwanto
Suporter Arema FC, Aremania turun kedalam stadion usai laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya dalam lanjutan Liga 1 2022 di Stadion Kanjuruhan, Kabupaten Malang, Sabtu (1/10/2022). Pimpinan Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni, menyesalkan terjadinya kerusuhan suporter sepak bola usai laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan. 

TRIBUN-TIMUR.COM, JAKARTA - Pimpinan Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni, menyesalkan terjadinya kerusuhan suporter sepak bola usai laga Arema FC melawan Persebaya Surabaya, di Stadion Kanjuruhan. Secara khusus, Sahroni menyoroti penggunaan gas air mata oleh pihak kepolisian.

"Saya pikir semua pihak menyesalkan penggunaan gas air mata yang sudah jelas dilarang oleh FIFA dan tidak masuk dalam SOP pengamanan pertadingan sepakbola," kata Sahroni.

"FIFA melarang gas air mata tentu ada pertimbangannya, yaitu gas air mata bisa memicu kericuhan dan kepanikan yang sangat berbahaya bila terjadi di stadion. Dan terbukti bila dilanggar, tragedi inilah yang terjadi. Ini jelas tertulis di pasal 9b peraturan FIFA terhadap pengamanan stadion," imbuhnya.

Sahroni menyebut, insiden tersebut bukan lagi merupakan tragedi olahraga, namun sudah merupakan tragedi kemanusiaan berat.

Sehingga harus mendapat perhatian penuh dari seluruh bangsa, terutama petinggi negara seperti presiden dan kapolri.

"Saya sebagai pimpinan Komisi III secara khusus meminta Kapolri untuk memberikan atensi luar biasa terhadap kasus ini. Usut tuntas dan tindak pihak yang bertanggung jawab," ujarnya.

"Kesalahan pasti ada di lebih dari 1 pihak, bisa suporter, panpel dan klub, atau aparat. Semua harus diusut. Namun yang jelas dan telak sudah dilanggar adalah penggunaan gas air mata oleh aparat," lanjutnya.

Lebih lanjut, Sahroni meminta kapolri tindak tegas oknum aparat yang bertanggung jawab atas penggunaan gas air mata ini.

"Di luar ada penyebab lain, tindakan sporadis, dan lain-lain itu juga mesti diusut. Kami di DPR akan segera menindaklanjuti ini dengan memanggil pihak-pihak terkait, dari polisi, panitia pelaksana (LIB dan PSSI), sampai pihak klub.

Bukan mencari-cari kesalahan, namun untuk menjaga hal serupa tak terjadi," ujarnya.

Kadiv Humas Divisi Mabes Polri Irjen pol Dedi Prasetyo menyatakan, tim Disaster Victim Investigation (DVI) Polri akan bergerak cepat dalam melakukan identifikasi seluruh jenazah imbas terjadinya kerusuhan di Stadion Kanjuruhan Malang.

Kata Dedi, sejauh ini Polri telah menerjunkan tim DVI ke Malang yang nantinya akan bekerjasama dengan tim dokter di tiap rumah sakit yang menjadi rujukan para korban.

"Oleh karenanya tim DVI mabes polri bekerja sama tim DVI setempat untuk melakukan identifikasi secara cepat agar korban bisa dikembalikan kepada pihak keluarga dan dimakamkan," kata Dedi.

Percepatan proses identifikasi itu juga dilakukan mengingat terbatasnya tempat penyimpanan jenazah di tiap rumah sakit.

Halaman
12
Sumber: Tribun Timur
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved