Pemilih Muda Rentan Terpapar Berita Bohong, Komisioner KPU: Mereka Kencang di Medsos

Hal tersebut disampaikan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Makassar, Endang Sari.

Penulis: Siti Aminah | Editor: Saldy Irawan
Tribun Timur
Komisioner KPU Makassar Endang Sari. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pemilih pemula dan pemilih muda salah satu kelompok yang mudah terpapar berita bohong alias hoaks.

Hal tersebut disampaikan Komisioner Komisi Pemilihan Umum (KPU) Makassar, Endang Sari.

Sebagaimana diketahui, sarang berita bohong berseliweran di media sosial.

Sementara pengguna aktif media sosial didominasi kalangan pemilih pemula dan muda.

"Karena interaksi mereka begitu kencang di medsos dan mereka bisa menjadi pusat paparan hoaks sekaligus pelaku atau penyebar hoaks," ucap Endang Sari, Rabu (28/9/20222).

Kata Endang, mereka sangat rentan terhadap ujaran kebencian yang bertebaran di media sosial.

Karena itu, peran KPU sebagai penyelenggara Pemilu harus massif untuk mencegah terjadinya upaya provokasi lewat medsos.

Pemilih pemula menjadi sasaran untuk dilalukan edukasi secara massif.

Tujuannya, agar mereka bisa menggunakan hak pilihnya pada pemilu 2024 mendatang dengan baik.

Apalagi, daftar pemilih tetap (DPT) sementara dari usia muda mendominasi jumlah pemilih.

Data KPU pada Juli 2022 lalu, jumlah DPT untuk usia 17-40 tahun atau yang tergolong muda totalnya mencapai 489 ribu. 

Rinciannya, pemilih pemula di usia 17-20 tahun sebanyak 65.699, usia 21-30 tahun sebanyak 224.665, dan usia 32-40 tahun sebanyak 200.618.

"Pemilih pemula dan pemilih muda mendominasi DPT, jumlahnya sudah lebih 50 persen dari update DPT dua bulan lalu," ungkapnya.

Endang menilai, kecenderungan pemilih pemula dalam berpartisipasi di kegiatan politik masih minim.

Salah satu upaya KPU Makassar untuk meningkatkan partisipasi pemilih pemula yakni melakukan sosialisasi di sekolah dan kampus.

KPU mengambil kesempatan untuk mengedukasi pemilih pemula untuk bangun kesadaran mereka menjadi pemilih yang berintegritas dan cerdas.

Serta aktif menggunakan hak pilihnya dan tahu siapa diantara kandidat yang pantas untuk dipilih.

"Kita edukasi bagaimana melihat figur yang layak dipilih. Kita lihat rekam jejaknya, kapasitasnya, gagasannya," ulasnya. (*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved