Headline Tribun Timur

Jokowi Prediksi Krisis Ekonomi 2023, Ketua Hipmi Sulsel: Sudah Mulai Terasa

Dampak yang dirasakan oleh Indonesia dan dunia akibat perang Rusia-Ukraina yang tak kunjung usai, yaitu krisis energi, pangan, dan finansial.

Editor: Hasriyani Latif
Andi Rahmat Manggabarani
Ketua Hipmi Sulsel Andi Rahmat Manggabarani. Putra pendiri IMB Group ini menyebut kenaikan BBM akan memaksa pengusaha menaikkan harga jual sementara di sisi lain, daya beli masyarakat tidak tumbuh 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Presiden RI, Joko Widodo (Jokowi), memperkirakan tahun 2023 ekonomi dunia akan semakin gelap dampak perang Rusia-Ukraina yang berlangsung sejak Februari 2022.

“Dunia sekarang ini pada posisi yang tidak gampang dan betul-betul sulit di mana tahun depan akan lebih gelap,” kata Jokowi di ICE, BSD, Senin (26/9/2022).

Jokowi mengatakan, dampak yang dirasakan oleh Indonesia dan dunia akibat perang Rusia-Ukraina yang tak kunjung usai, yaitu krisis energi, pangan, dan finansial yang akan membebani pergerakan ekonomi di tahun 2023.

“Itu akan berakibat pada kesulitan lain, seperti krisis pangan, krisis energi, krisis finansial, Covid-19 yang belum pulih, dan akibatnya kita tahu, sekarang ini saja 19.600 orang di dunia mati karena kelaparan, karena krisis pangan,” lanjut Jokowi.

Jokowi menyebutkan bahwa perang Rusia-Ukraina masih akan berlangsung lama. Kesimpulan itu, setelah dirinya bertemu dengan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy dan Presiden Rusia Vladimir Putin beberapa waktu lalu.

Sebelumnya, Gubernur BI, Perry Warjiyo, mengatakan pertumbuhan ekonomi global tahun 2023 berisiko tumbuh lebih rendah. Ini juga disertai dengan tingginya tekanan inflasi dan ketidakpastian pasar keuangan global.

Pelambatan pertumbuhan perekonomian global ini terutama terjadi di negara-negara maju, seperti Amerika Serikat (AS) yang tahun ini tumbuh 2,1 persen tapi tahun depan diperkirakan hanya tumbuh 1,5 persen.

“Tahun depan kami perkirakan turun jadi 2,7 persen bahkan ada beberapa risiko yang menjadikan ke 2,6 persen. Hal ini juga terjadi di Eropa yang pertumbuhan ekonomi tahun ini diperkirakan 2,1 persen, tahun depan lebih rendah menjadi 1,2 persen dan Tiongkok tahun ini tumbuh 3,2 persen dan tahun depan 4,6 persen,” ujarnya dalam konferensi pers virtual, Kamis (22/9/2022).

Penurunan pertumbuhan ekonomi ini disertai dengan risiko resesi di sejumlah negara maju. Selain itu, volume perdagangan dunia juga tetap rendah.

Perry mengatakan, faktor yang mendorong pelambatan pertumbuhan ekonomi global 2023 mencakup gangguan mata rantai pasokan global, kebijakan proteksi diberbagai negara, konflik geo politik, dan respons kebijakan suku bunga yang agresif di AS dan sejumlah negara.

Menanggapi pernyataan presiden, Ketua Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Sulsel, Andi Rahmat Manggabarani, mengatakan dampak perang Rusia-Ukraina sudah mulai terasa.

“Nda perlu tunggu tahun depan. Kuartal terakhir ini aja sudah mulai terasa dampak dari perang (Rusia-Ukraina), kenaikan BBM, kenaikan suku bunga,” kata Rahmat, Selasa (27/9/2022).

Putra pendiri IMB Group ini menjelaskan kenaikan BBM akan memaksa pengusaha menaikkan harga jual.

Sementara di sisi lain, daya beli masyarakat tidak tumbuh, sebaliknya malah berkurang. “Kenaikan suku bunga juga ikut mengerem pertumbuhan ekonomi,” sambungnya.

Halaman
12
Sumber: Tribun Timur
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved