Digital

Kekurangan SDM Jadi Tantangan Transformasi Digital di Indonesia, Apa Solusinya?

Transformasi digital Indonesia menghadapi tantangan kekurangan talenta atau Sumber Daya Manusia (SDM) digital.

DOK PRIBADI
Saat Direktur Digital Business Telkom Muhamad Fajrin Rasyid memaparkan kebutuhan akan talenta/SDM digital untuk menghadapi transformasi digital Indonesia pada acara BATIC 2022, di Nusa Dua, Bali, Kamis (22/9/2022). Diketahui, hingga kini Indonesia masih sangat kekurangan talenta atau Sumber Daya Manusia (SDM) digital. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Transformasi digital Indonesia menghadapi tantangan kekurangan talenta atau Sumber Daya Manusia (SDM) digital.

Demikian dikatakan Direktur Digital Bisnis PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom), Muhamad Fajrin Rasyid.

Ia memaparkan, saat ini permintaan industri ICT terhadap talenta digital sangat tinggi.

"Indonesia saat ini kekurangan talenta digital yang mengancam pertumbuhan industri teknologi dengan prakiraan unrealized output senilai USD 21,8 miliar," jelas Fajrin via rilis, Sabtu (24/9/2022).

Mengutip Bank Dunia, Fajrin memaparkan, pertumbuhan pesat sektor teknologi sepanjang 2015 hingga tahun 2030 akan membuat Indonesia kekurangan 9 juta tenaga terlatih dan semi terlatih di bidang teknologi.

Selain itu, setidaknya pada tahun 2018 sebanyak 1.000 perusahaan teknologi aktif mencari talenta digital.

Angka perusahaan tersebut justru meningkat 5 kali lipat dari tahun 2017.

"Data Kementerian juga menunjukkan adanya kekurangan 600 ribu per tahunnya terhadap kebutuhan talenta teknologi," katanya.

Fajrin memaparkan, Telkom berkomitmen untuk mendukung pengembangan inovasi dan talenta digital Indonesia.

Setidaknya ada tiga wadah inkubasi yang Telkom miliki untuk menampung dan mengembangkan ide inovasi dari internal maupun eksternal, seperti Tribe, Amoeba dan Indigo.

Menurut Fajrin, keberhasilan transformasi digital membutuhkan perubahan pola pikir yang radikal pada bisnis, digitisasi, dan para talenta.

"Keberhasilan transformasi digital juga membutuhkan prasyarat yakni fokus pada kebutuhan konsumen, jangan merasa terlalu nyaman dengan bisnis inti, jangan menolak terhadap perubahan, jangan terlalu lambat berinovasi, dan jangan takut dengan risiko," tukasnya. (*)

 

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved