Breaking News:

Opini

RRI dan Pemajuan Aksara Lontaraq

Radio Republik Indonesia (RRI), khususnya Programa 4, punya tagline kuat: esiklopedia budaya keindonesiaan.

RRI dan Pemajuan Aksara Lontaraq
DOK PRIBADI
Rusdin Tompo - Ketua KPID Sulawesi Selatan, periode 2011-2014, dan Koordinator Satupena Sulawesi Selatan

Oleh: Rusdin Tompo
Ketua KPID Sulawesi Selatan, periode 2011-2014, dan Koordinator Satupena Sulawesi Selatan

TRIBUN-TIMUR.COM - Radio Republik Indonesia (RRI), khususnya Programa 4, punya tagline kuat: esiklopedia budaya keindonesiaan.

Sebagai ensiklopedia, maka Lembaga Penyiaran Publik (LPP) itu dalam program-program siarannya, idealnya menjadi rujukan karena berisi keterangan atau uraian tentang berbagai hal terkait budaya atau kebudayaan Indonesia.

Ada tujuh unsur kebudayaan menurut Koentjaraningkat, yakni bahasa, pengetahuan, organisasi sosial, peralatan hidup dan teknologi, ekonomi, religi, serta kesenian.

Potensi RRI dalam pemajuan kebudayaan sangat besar karena menjalankan fungsi informasi, pendidikan, hiburan yang sehat, kontrol dan perekat sosial, serta menjaga citra positif bangsa di dunia global.

Bukan Sekadar Bahasa
Sebagai medium radio, pada hakikatnya kekuatan RRI ada pada siaran kata, bahasa, termasuk bahasa daerah.

Posisi bahasa menjadi penting karena ia merupakan alat, sarana, dan medium bagi manusia dalam interaksi sosial.

Bahasa menjadi kunci bagi manusia dalam mentransformasikan ilmu pengetahuan, mewariskan nilai-nilai dan kearifan lokalnya, dan mentransmisikan semua budaya adiluhung melalui proses pengajaran dan pembelajaran.

Di Indonesia, meski jumlah bahasa daerah yang dipergunakan beragam suku di Tanah Air mencapai sekira 718 bahasa daerah, tetapi tidak semua daerah itu punya aksara sendiri.

Kita di Sulawesi Selatan patut berbangga karena kita merupakan salah satu yang diwariskan aksara (tulisan), berupa aksara Lontaraq.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved