Polisi Tembak Polisi

Kasus Irjen Ferdy Sambo Bakal Lama, Saksi Kunci Dikabarkan Sakit: Mabes Polri: Penyembuhannya Lama

Obstruction of justice merupakan perbuatan yang tergolong tindak pidana karena menghalangi atau merintangi proses hukum dalam perkara. 

Editor: Muh. Irham
Foto: Divisi Humas Polri
Kepala Divisi Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo. Ia menyebutkan bahwa salah satu saksi kunci kasus Irjen Ferdy Sambo sedang sakit dan butuh waktu lama untuk penyembuhan 

TRIBUN-TIMUR.COM - Saksi kunci obstruction of justice kasus pembunuhan Brigadir Nopriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J, AKBP Arif Rahman Arifin (AR) dikabarkan sedang sakit. Dan untuk proses penyembuhannya butuh waktu lama.

Obstruction of justice merupakan perbuatan yang tergolong tindak pidana karena menghalangi atau merintangi proses hukum dalam perkara. 

Kabar mengenai sakitnya AKBP Arif Rahman Arifin disampaikan oleh c, Kadiv Humas Mabes Polri, kemarin.

Dalam keterangannya, Kadiv Humas tidak menjelaskan jenis penyakit yang dialami AKBP Arif Rahman Arifin.

Sakit yang dialami AKBP Arif Rahman berdampak pada penundaan sidang etik mantan Karo Paminal Divisi Propam Polri Brigjen Hendra Kurniawan dan Ipda Arsyad Daiva Gunawan.

AKBP Arif Rahman merupakan salah satu tersangka obstruction of justice di kasus Brigadir J. AKBP Arif Rahman sendiri telah dimutasi sebagai Pamen Yanma Polri. Mutasi itu tertera dalam Surat Telegram Nomor 1628/VIII/KEP/2022.

Polri telah menjatuhkan sanksi pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) kepada lima anggotanya. Mereka diberi sanksi karena terkait kasus pembunuhan Brigadir Yosua.

Kasus pembunuhan Brigadir J didalangi oleh mantan Kadiv Propam Mabes Polri, Irjen Ferdy Sambo

Sambo diduga menyusun pembunuhan berencana terhadap Brigadir J hingga merekayasa kasus tersebut hingga melibatkan oknum-oknum polisi.

Ferdy Sambo ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan pembunuhan berencana terhadap Brigadir J. Selain Ferdy Sambo, empat orang lain ditetapkan sebagai tersangka, yakni Bharada Richard Eliezer atau Bharada E, Bripka Ricky, Putri Candrawathi, dan Kuat Ma'ruf.

Kelima tersangka dijerat dengan Pasal 340 KUHP tentang Pembunuhan Berencana subsider Pasal 338 KUHP tentang Pembunuhan juncto Pasal 55 juncto 56 KUHP. Mereka terancam hukuman mati.

Selain itu, kasus ini tak hanya terpaku pada kasus pembunuhan berencana, tapi ada pula kasus obstruction of justice atau upaya menghalang-halangi proses hukum. Dalam kasus ini, Sambo pun telah ditetapkan sebagai tersangka.

Ferdy Sambo telah menjalani sidang etik dan dijatuhi sanksi etik, yaitu pemberhentian tidak dengan hormat. Permohonan bandingnya pun telah ditolak.

Selain Sambo, ada 4 polisi lain yang dijatuhi sanksi PDTH, yaitu:

1. Kompol Chuck Putranto,
2. Kompol Baiquni Wibowo,
3. Kombes Agus Nurpatria, dan
4. AKBP Jerry Raymond Siagian. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved