Direktur Amnesty Internasional Ungkap Sidang Perdana HAM Berat Paniai di PN Makassar Belum Jelas

Direktur Amnesty International Usman Hamid menilai sidang perdana kasus pelanggaran HAM berat di Paniai, Papua, masih menuai pro dan kontra

Penulis: Muh. Sauki Maulana | Editor: Ari Maryadi
Tribun Timur Muh Sauki
Direktur Amnesty International Usman Hamid pasca sidang perdana kasus pelanggaran HAM berat Paniai, Papua di Pengadilan Negeri Makassar, Sulsel, Rabu (21/9/2022). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sidang perdana kasus pelanggaran HAM berat di Paniai, Papua mulai digelar di Pengadilan Negeri Makassar (PN) Makassar, Rabu (21/9/2022).

Agenda sidang pertama ini masuk pada agenda pembacaan dakwaan terhadap Mayor Inf (Purn) Isak Sattu sebagai terdakwa dalam peristiwa keji tersebut.

Dalam agenda sidang tersebut, Direktur Amnesty International Usman Hamid pun turut hadir memastikan jalannya sidang.

Usman mengatakan, jalannya sidang masih menuai pro dan kontra. Pasalnya, banyak opini publik yang mempertanyakan peran terdakwa dalam perbuatan keji tersebut.

"Yang paling penting adalah substansi perkaranya. Benar ga peristiwa yang terjadi di Paniai itu memang merupakan peristiwa akibat perbuatan terdakwa. Itu saya masih ragu. Kita lihatlah dan itu mungkin yang banyak meragukan bahwa pelakunya adalah satu orang ini," katanya, Rabu (21/8/2022).

Usmam juga menyinggung soal banyaknya fakta hukum yang tidak dimasukkan dalam dakwaan sidang.

Dirinya menambahkan, ada banyak rangkaian peristiwa yang sebenarnya saling berkaitan namun tak dijelaskan dalam dakwaan.

"Jadi begini ada penganiayaan di tanggal 7 2014 itu dan ada penembakan tanggal 8 tahun 2014 itu. Yang hari pertama itu menyebabkan luka fatal, tetapi tidak menyebabkan kematian. Terus siapa pelakunya? Itu tidak ada, kurang, kosong. Ada celah kosong yg harus diisi dalam persidangan berikutnya," ujarnya.

Keraguan keluarga korban akan keseriusan PN Makassar dalam menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat tiga tahun silam dibuktikan dengan ketidak hadirannya dalam sidang.

Usman mengaku, ini menjadi ujian berat bagi negara dalam mengadili terdakwa pembunuhan tersebut.

Bahkan, kata Usman hasil persidangan ini bisa menjadi cerminan apakah negara bisa mengungkap banyak fakta yang belum terungkap hingga saat ini.

"Dari awal keluarga sangat ragu pemerintah sungguh-sungguh di dalam memberikan keadilan kepada mereka. Tetapi tentu kami juga harus menerima kenyataan pengadilan ini digelar dan kita ingin melihat, apa benar negara serius atau sebaliknya benar dugaan keluarga korban bahwa ini main-main," jelasnya.

"Inilah ujian yang sangat berat PN Makassar membawa beban dan tantangan yg sangat berat. Kalau gagal bisa disalahkan. Tentu saja masih terlalu dini mengatakan persidangan ini gagal atau sebaliknya," tambahnya.

Laporan Jurnalis Tribun Timur Muh Sauki Maulana 

Sumber: Tribun Timur
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved