Sekolah

Potret Murid SDN 74 Bolang Enrekang Belajar di Kolong Rumah Selama Tiga Tahun

Guru dan murid belajar-mengajar di bawah kolong rumah karena sekolah gedung sekolah mereka nyaris ambruk akibat tanah bergerak

Penulis: Erlan Saputra | Editor: Muh. Irham
Tribun Enrekang/Erlan Saputra
Bangku-bangku murid SDN Bolang, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang yang berada di kolong rumah warga. Aktivitas belajar mengajar di sekolah darurat ini sudah berlangsung selama kurang lebih tiga tahun 

ENREKANG, TRIUN-TIMUR.COM - Hampir tiga tahun murid SDN 74 Bolang, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang, mengenyam pendidikan di bawah kolong rumah warga.

Guru dan murid belajar-mengajar di bawah kolong rumah karena sekolah gedung sekolah mereka nyaris ambruk akibat tanah bergerak.

Akibatnya, sebanyak 92 murid terpaksa melakukan proses belajar di kolong rumah milik warga.

Ada dua rumah panggung milik warga tempat untuk dijadikan kegiatan belajar-mengajar (KBM).

Kemudian dibagi menjadi enam kelas dengan tripleks sebagai dinding pemisah antar ruang kelas.

Di antara ruangan masing-masing berukuran 4 x 6 meter dilengkapi papan tulis, kursi, dan meja kayu.

"Kami terpaksa mencari lokasi yang aman untuk belajar-mengajar karena sekolah kami itu sangat membahayakan ditempati baik guru maupun murid-murid," kata Kepala Sekolah UPT SDN Bolang, Amir Bando, Selasa, (20/9/2022).

Demikian dikatakan Amir Bando, sejatinya mereka tidak menikmati prasarana pendidikan sejak awal Januari 2020 silam.

"Kami sebelumnya menumpang di SDN 169 Bolang (sekolah yang tidak jauh dari SDN 74 Bolang) setelah itu karena tempatnya di rehab akhirnya kami pindah lagi dan menetap di kolong rumah warga," kata dia.

Ia menambahkan, keluhkannya itu sudah disampaikan ke pemkab untuk usulan relokasi pembangunan sekolah.

Sebab sekolah yang nyaris amruk itu tidak mungkin lagi ditempati karena lahannya sangat rawan longsor.

"Sekolah kami tidak bisa lagi digunakan, sekalipun diperbaiki tetap saja mengalami kerusakan. Untuk itu dilaporkan ke pemerintah kabupaten terkait solusi terbaik," ungkapnya.

Namun menurutnya, pemkab rupa tidak sanggup membiayai dikarenakan minimnya anggaran.

"Menurut informasinya, kalau pemkab yang tangani itu tidak bisa karena besar sekali biayanya, jadi kemungkin lama juga prosesnya," ujarnya.

Orang berbeda, Ardi salah seorang warga menilai pihak pemerintah kabupaten tidak bertanggung jawab atas pembangunan infrastruktur sekolah.

"Walaupun sudah ada rencana bakal direlokasi, tapi kan seharusnya sedari awal pemerintah melakukan ini. Bayangkan murid-murid melakukan proses belajar di bawah kolong rumah hampir tiga tahun lamanya," ungkapnya.

Menurutnya pemerintah perlu lebih prioritaskan pembangunan sekolah layak bagi anak-anak sekolah khususnya yang ada di Kabupaten Enrekang.

"Selain di sekolah yang ada di desa kami (Desa Bolang) masih banyak sekolah-sekolah lain yang perlu diperhatikan pembangunan. Nah ini supaya proses belajar-mengajar siswa dan guru berjalan nyaman," pungkasnya.(*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved