Orang Tua Santri Asal Enrekang Desak Polisi Usut Pelaku Kematian Fauzan

Heti Hamid ibunda Fauzan (17), tak henti berlinang air mata saat mengisahkan peristiwa yang merenggut nyawa anaknya.

Penulis: Erlan Saputra | Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM/ERLAN SAPUTRA
Heti Hamid, ibunda Almarhum Fauzan, begitu tak kuasa menahan kesedihan saat kenang sosok anaknya yang jadi korban kekerasan di salah satu sekolah di Sidoarjo, Kelurahan Kalosi, Kecamatan Alla, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, Minggu (18/9/2022). 

TRIBUN-TIMUR.COM, ENREKANG - Nestapa masih menyelimuti keluarga mendiang Fauzan, seorang santri korban tindak kekerasan di sekolah Insan Cendekia Mandiri Boarding School (CMBS) Sidoarjo.

Heti Hamid ibunda Fauzan (17), tak henti berlinang air mata saat mengisahkan peristiwa yang merenggut nyawa anaknya.

Kepada Tribun-Timur, ia memperlihatkan sejumlah gambar dan berbagai prestasi yang pernah dicapai oleh Fauzan.

Demikian yang dikatakan wanita 55 tahun itu saat di temui dikediamannya, Kelurahan Kalosi, Kecamatan Alla, kabupaten Enrekang, Minggu (18/9/2022).

Hatinya seketika runtuh melihat anaknya datang dari tanah rantau, namun dalam kondisi tak bernyawa.

Ia sangat menyayangkan, pihak yayasan tidak memberi informasi secara keterbukaan ke pihak keluarganya.

"Terus terang, saya selaku ibu kandung mendidik dan membesarkan anak saya ini sangat kecewa dengan pihak yayasan (CMBS) karena seolah menutupi kasus kematian anak saya," kata Heti Hamid.

Sambil menahan gejolak air mata, ia menceritakan bahwa pihak sekolah awalnya melaporkan pada Senin (12/9/2022) lalu, jika Fauzan terjatuh dari lantai tiga di sekolahnya.

Katanya, kondisi Fauzan saat itu muntah darah sehingga harus dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sidoarjo, Jawa Timur.

"Seandainya anak saya jatuh di gedung sekolah, pasti ada bekas luka pada bagian tubuhnya, tetapi ini tidak satupun tanda-tanda luka kecuali di bagian kepala" kata dia.

Selang sehari tepatnya pada Selasa (13/9/2022) pihak Yayasan kembali mengabari dan meminta izin ke pihak keluarga korban untuk penanganan darurat.

Sebab korban (Fauzan) mengalami pengumpalan darah di bagian otak.

"Nah disini saya curiga, bahwa anak saya ini tidak terjatuh dari atas gedung sekolah, tapi mengalami kekerasan," katanya.

Kabar tersebut membuat Heti Hamid semakin khawatir dan hendak terbang ke Sidoarjo memastikan kondisi Fauzan.

Halaman
12
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved