Tarif Ojol Naik

Tarif Ojol Naik, Driver Terancam Kehilangan Pengguna? Simak Penjelasan Pengamat Ekonomi Unhas

Tarif ojol naik bakal berdampak pada kelompok masyarakat dengan pendapatan menengah ke bawah.

Penulis: Rudi Salam | Editor: Hasriyani Latif
DOK PRIBADI
Pengamat Ilmu Ekonomi Universitas Hasanuddin Anas Iswanto. Anas Iswanto menyebut kenaikan tarif ojol bakal berimbas pada permintaan jasa yang mengalami penurunan. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Kementerian Perhubungan (Kemenhub) mengumumkan tarif ojek online (ojol) naik Minggu (11/9/2022) lalu.

Tarif baru ojol di setiap daerah berbeda-beda, tergantung zonasi. Adapun zonasi dibagi menjadi tiga.

Zona pertama terdiri dari seluruh Sumatera, Bali, dan Jawa kecuali Jabodetabek. 

Untuk zona pertama, tarif bawah akan naik sebesar 8 persen dan 8,7 persen untuk tarif batas atas.

Di zona II atau Jabodetabek, tarif batas bawah mengalami kenaikan sebesar 13 persen dan tarif batas atas naik 6 persen.

Zona ketiga mencakup Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara dan sekitarnya, Maluku, dan Papua.

Pada zona ketiga, tarif batas bawah mengalami kenaikan 9,5 persen dan tarif batas atas naik 5,7 persen.

Pengamat Ekonomi dari Universitas Hasanuddin (Unhas) Anas Iswanto, mengatakan kenaikan tarif ojol adalah imbas dari kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM).

“Ojek online biaya produksinya adalah BBM. Kalau harga BBM naik, pasti biaya produksinya naik. Ketika biaya produksinya naik, pasti tarifnya juga akan naik,” kata Anas Iswanto saat dihubungi Tribun-Timur.com, Selasa (13/9/2022).

Menurutnya, kenaikan tarif ojol bakal berdampak pada kelompok masyarakat dengan pendapatan menengah ke bawah.

Dimana, permintaan jasa ojek online bakal mengalami penurunan.

“Masyarakat menengah ke bawah akan melakukan penyesuaian dan mengurangi naik kendaraan ojek online,” sebutnya.

“Bisa saja masyarakat mengurangi perjalanannya atau katakanlah kalau dia bisa jalan kaki, ya jalan kaki. Atau mungkin nebeng sama teman. Itu menjadi alternatif,” sambung dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unhas itu.

Permintaan yang bakal berkurang, kata Anas, juga akan mengancam pada driver ojol. Apalagi persaingan ojol semakin besar.

“Bisa saja ke situ (akan banyak pengangguran) karena permintaan berkurang,” katanya.(*)

Sumber: Tribun Timur
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved