Literasi Keagamaan dan Indonesia Emas

Indonesia pun digadang-gadang akan menjadi negara ekonomi terbesar ke-5 dan berada pada kelompok negara maju. 

Editor: Saldy Irawan
DOK PRIBADI
AKBAR HADI, ST, Ketua Umum Majelis Pemuda Islam Indonesia (MPII) Sulawesi Selatan 

Indonesia Emas diprediksi akan tercipta tepat di 2045 atau seratus tahun umur kemerdekaan Indonesia.

Di masa itu, ukuran penduduk Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia, diproyeksi mencapai 318 juta jiwa dengan usia produktif mencapai 65 persen.

Bonus Demografi yang diperoleh Indonesia disebut sebagai kekuatan yang begitu besar dan juga akan mampu menggerakkan roda perekonomian di berbagai sektor.

Indonesia pun digadang-gadang akan menjadi negara ekonomi terbesar ke-5 dan berada pada kelompok negara maju. 

Untuk menjadikan 'Ramalan' itu nyata, maka tentu segenap warga Indonesia harus mempersiapkan diri. Yang paling utama adalah menyiapkan sumber daya manusia khususnya generasi muda. Sebab, berpijak pada banyaknya populasi manusia saja tidak bisa menjadi barometer kemajuan suatu bangsa.

Indonesia terdiri dari banyak suku, etnis, ras, agama dan budaya. Kekayaan keragaman itu merupakan kekuatan Indonesia yang diakui dunia. Namun hal itu bisa juga menjadi ancaman perpecahan persatuan dan kesatuan yang selama ini terjaga apabila rasa toleransi dan saling menghargai antar sesama mulai pudar.

Untuk menjaga semangat tersebut maka penting mulai sekarang dan seterusnya, budaya baik toleransi itu harus dijaga oleh rakyat Indonesia terutama para generasi muda penerus bangsa. 

Salah satu hal yang patut diajarkan bahkan digalakkan adalah Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB).

Mengingat di era digitalisasi saat ini masyarakat rawan dicecoki oleh berita hoax dan berita negatif yang punya daya kuat meracuni pikiran umat untuk terpecah belah, sehingga perlu edukasi berbasis keagamaan dan budaya.

Apa yang menjadi fokus utama Literasi Keagamaan Lintas Budaya (LKLB), yakni bagaimana menciptakan insan yang memiliki cara pandang, sikap dan tindakan untuk dapat bekerjasama dengan yang berbeda agama dan kepercayaan (kompetensi kolaboratif), berlandaskan pada pemahaman akan kerangka moral, spiritual, dan pengetahuan diri pribadi (kompetensi pribadi) dan orang lain yang berbeda agama dan kepercayaan (kompetensi komparatif).

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved