Perkenalkan Kuliner Indonesia, BRI Bawa Ikan Asap Iwaku ke Festival Pasar Tong-Tong di Belanda

Perkenalkan inovasi UMKM hingga ke luar negeri, BRI bawa ikan asap Iwaku untuk mengikuti pameran di Pasar Tong-Tong di Belanda.

Dok. BRI
Usaha kuliner tradisional pengalengan ikan asap asal Demak, Jawa Tengah (Jateng) bernama Iwaku mampu meraih sukses hingga ke pasar Belanda, di Festival Pasar Tong-Tong. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Usaha kuliner tradisional ikan asap asal Demak, Jawa Tengah (Jateng) dengan sentuhan inovasi pengalengan makanan ternyata mampu meraih sukses di pasar internasional.

Usaha kuliner dengan brand "Iwaku" itu dikembangan oleh Tejo Purwoto dan tampil di Festival Tong-Tong di Belanda. "Iwaku" merupakan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) binaan dari PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI).

Tejo Purwoto yang merupakan warga Desa Wono Sari, Kecamatan Bonang, Demak ini sebelumnya tak menyangka bisa ikut meramaikan festival budaya di Negeri Kincir Angin tersebut.

Hal itu berawal dari keikutsertaannya dalam sebuah pameran UMKM di Demak. Saat itu, ia bertemu dengan staf khusus Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Arya Mahendra Sinulingga.

“Kami ikut pameran UMKM di Demak dan bertemu dengan Pak Arya Sinulingga yang menyebut bahwa ternyata makanan tradisional bisa diproses dengan pengalengan tanpa pengawet dan siap saji. Dengan sistem ini, kami bisa ikut Festival Tong-Tong,” jelas Tejo dalam keterangan persnya, Senin (5/9/2022).

Iwaku adalah salah satu makanan khas ikan asap yang diproses dengan pengalengan dan bisa bertahan kurang lebih selama enam bulan tanpa perubahan rasa.
Iwaku adalah salah satu makanan khas ikan asap yang diproses dengan pengalengan dan bisa bertahan kurang lebih selama enam bulan tanpa perubahan rasa. (Dok. BRI)

Sebagai informasi, sekitar 11 tahun lalu Tejo Purwoto bersama pelaku bisnis yang sama di desanya mulai menjalankan kelompok usaha. Langkah ini diiiringi dengan penguatan usaha melalui pembentukan Koperasi Serba Usaha (KSU) Asap Indah yang diketuai langsung oleh Tejo.

Kini, KSU Asap Indah memiliki anggota 76 pelaku UMKM dan mempekerjakan sekitar 350 tenaga kerja yang merupakan masyarakat di sekitar Desa Wono Sari. Imbasnya, KSU Asap Indah berhasil memutar roda ekonomi dengan perolehan omset sekitar Rp 750 juta per hari dengan bahan baku sebanyak 25 ton ikan.

Tejo bercerita, ide pengalengan ikan asap muncul pada 2021. Tujuannya agar makanan ini  tak hanya bisa tahan dua hingga tiga hari. Ternyata, dengan proses pengalengan, ikan asap buatan KSU Asap Indah bisa bertahan lebih dari enam bulan tanpa perubahan rasa.

Dari situ, Tejo bersama dengan kelompok usahanya mulai memberanikan diri untuk melabeli produknya dengan brand Iwaku.

Ikan asap kalengan Iwaku diproduksi mencapai 2.500 kemasan untuk kebutuhan pasokan selama satu bulan. Dengan proses pengalengan seperti sarden, Tejo menyebutkan, permintaan dari pasar luar negeri mulai banyak berdatangan, seperti Amerika Serikat (AS), Jepang, dan Belanda.

Halaman
12
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved