Breaking News:

Opini M Dahlan Abubakar

Opini M Dahlan Abubakar: Bandit Ekonomi Global Belajar dari Bugis

John Perkins, dalam rekam jejaknya, menjalani empat macam kehidupan sebagai bandit ekonomi

DOK PRIBADI
M Dahlan Abubakar, Dosen Tidak Tetap Unhas 

Oleh; M Dahlan Abubakar
Dosen Tidak Tetap Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM - John Perkins, dalam rekam jejaknya, menjalani empat macam kehidupan sebagai bandit ekonomi.

Ia “Chief Executive Officer’ (CEO) sebuah perusahaan energi alternatif yang sukses, seorang ahli kebudayaan pribumi dan perdukunan (shamanisme), seorang guru, dan penulis yang memanfaatkan pengalamannya mempromosikan ekologi.

Di dalam bukunya yang berjudul “Confessions of an Economic Hit Man” Membongkar Kejahatan Jaringan Internasional” yang diterbitkan UFUK Timur (2009) dia mengungkapkan intrik-intrik internasional dan korupsi yang mengubah Amerika menjadi imperium dunia.

Perkins juga bepergian ke banyak negara Afrika, Asia, Amerika Latin, dan Timur Tengah serta melihat langsung atas berbagai peristiwa yang dramatis dan pernah terjadi di dunia modern, termasuk kasus pencucian uang di Arab Saudi, kejatuhan Shah Iran, pembunuhan terhadap Presiden Panama Omar Terijos dan invasi militer ke Irak 2003.

Dalam menulis buku ini, kata Perkins, selain mencobanya beberapa kali, juga mendekati para bandit ekonomi dan jakal – yang artinya serigala, namun dalam konteks isi buku ini dimaknai sebagai seseorang yang melakukan perbuatan terlarang atau melanggar hukum atas perintah orang lain.

Secara etimologis, kata “jakal” sendiri berasal dari bahasa Turki, Cakal (dari bahasa Persi –shaqAl – dan bahasa Indo-Arya yang diubah ke dalam bahasa Sansekerta menjadi “srgAla”.

Salah satu bagian dari buku ini yang menarik bagi saya berjudul “Orang Bugis: (2009:25). Perkins bercerita tentang bagian lawatannya ke Indonesia, khususnya Sulawesi yang dia istilah sebagai pulau yang memiliki sebutan kesayangan “jerapah mabuk yang berlari”, he..he.., lantaran bentuknya di peta ini, yang telah dijadikan model pembangunan pedesaan.

Ia menilai, Sulawesi yang menjadi bagian penting perdagangan rempah-rempah Hindia Belanda ini menjadi terbelakang pada abad XX. Pemerintah Indonesia (pada rezim Orde Baru) bertekad menjadikannya (Sulawesi) menjadi lambang kemajuan.

Baca juga: Opini Amir Ilyas: Dimana Karya Agung RKUHP?

Baca juga: Opini Abdul Gafar: Panik

“Kami sebagai orang Amerika melihatnya sebagai sapi perah industri pertanian, mineral, dan kehutanan yang potensial,” Perkins berkata.

Halaman
1234
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved