OPINI

Astronomi Islam: Indonesia vs Dinasti Abbasiyah

Teori filsafat mengajarkan proses kerangka berpikir ilmiah dibangun atas dasar trilogi epistemologi, aksiologi, dan ontologi.

Editor: Hasriyani Latif
Fathur Muhammad
Mahasiswa Magister Ilmu Falak (Astronomi Islam) Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Fathur Muhammad 

Fathur Muhammad

Anggota Forum Lingkar Pena (FLP) Cabang Makassar/Mahasiswa Magister Ilmu Falak (Astronomi Islam) Pascasarjana UIN Walisongo Semarang dan Ketua Departemen Etnoastronomi IIAC (Indonesia Islamic Astronomy Club)

AGAMA dan sains sudah menjadi suatu konstruksi elaboratif dalam transmisi konseptual pengetahuan astronomi untuk membangun suatu paradigma ilmiah yang berlandaskan Al-Qur’an dan Hadist sebagai Intermediate Line interpretasi fenomena alam semesta.

Lahirnya ilmu pengetahuan dalam sejarah peradaban umat manusia telah melalui berbagai proses dialektika dan logika secara tradisional, primordial dan kultural dengan aspek mistos-simbolistik yang kemudian dirasionalkan oleh akal pikiran manusia guna menyingkap rahasia alam semesta.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi serta pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal” QS. Al-Imran: 190.

Perintah Al-Qur’an tersebut sejalan dengan tugas mulia astronomi, bahwa manusia dituntut untuk menggunakan akalnya dalam bernalar untuk menafsirkan Ayat-Ayat Kauliyah dan Kauniyah.

Teori filsafat mengajarkan proses kerangka berpikir ilmiah dibangun atas dasar trilogi epistemologi, aksiologi, dan ontologi. Sama halnya kaedah berpikir Islam yang memiliki paradigma revolusioner, yaitu paradigma bayani, irfani, dan burhani sebagai perwujudan kearifan Aqliah dan Naqliah.

Namun, sistem pendidikan Indonesia saat ini, pemerintah belum memberikan perhatian orientasi khusus pada studi keilmuan astronomi Islam yang seharusnya juga diberikan Value (nilai) lebih besar demi kemajuan kahzanah sains dan teknologi bangsa Indonesia agar meiliki daya saing secara pendidikan dan inovasi diantara negara-negara mayoritas Muslim Asia hingga Global.

Padahal, peradaban Islam pernah menjadi kiblat Astronomi dunia sepanjang abad ke-8 hingga 12 M yang dikenal dengan The Golden Age (zaman keemasan) Dinasti Abbasiyah (750 M).

Karena pada saat itu selain ilmu-ilmu agama, ilmu-ilmu murni juga menjadi perhatian khusus, maka tak ayal di zaman itu melahirkan banyak tokoh-tokoh dan ilmuwan, seperti Al-Kindi, Al-Khawarizmi, Al-Biruni, Al-Razi, Al-Farabi, Ibn Sina, dan Al-Ghazali.

Halaman
123
Sumber: Tribun Timur
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved