Harga BBM

Ketua Apindo Makassar Nilai Kenaikan BBM Ancam Dunia Usaha

Apindo berharap isu kenaikan BBM ini bisa dicarikan solusi dan tidak dilakukan (dinaikkan) dalam waktu dekat ini.

Penulis: Rudi Salam | Editor: Hasriyani Latif
dok pribadi/muammar
Ketua Apindo Makassar Muammar Muhayyang. Terkait isu kenaikan BBM, Muammar Muhayyang menilai jika harga BBM naik maka akan mengancam dunia usaha. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Harga Bahan Bakar Minyak (BBM) Pertalite dikabarkan bakal mengalami kenaikan pekan depan.

Harga BBM Pertalite akan naik dari harga Rp 7.650 per liter liter menjadi Rp 10.000 per liter.

Isu kebijakan itu ditanggapi oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kota Makassar.

Ketua Apindo Makassar Muammar Muhayyang mengatakan, kebijakan tersebut bakal mengancam dunia usaha.

“Kalau menurut saya, kebijakan ini jelas sangat mengancam keberlangsungan dunia usaha,” katanya, saat dihubungi Tribun-Timur.com, Senin (22/8/2022).

“Karena apabila BBM dinaikkan, akan menghasilkan multiefek kenaikan semua harga-harga yang berujung pada inflasi,” sambungnya.

Muammar berharap pemerintah bisa bijaksana melihat kebijakan fiskal ataupun kebijakan moneter yang bisa membantu pelaku usaha.

“Mudah-mudahan sampai akhir tahun kita bisa keluar dari permasalahan energi yang disebabkan perang Rusia dan Ukraina,” harapnya.

Dirinya pun berharap pemerintah tidak menaikkan harga BBM dalam waktu dekat, mengingat masih pemulihan pasca pandemi.

“Kami Apindo berharap isu kenaikan BBM ini bisa dicarikan solusi dan tidak dilakukan (dinaikkan) dalam waktu dekat ini,” harapnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan mengatakan Presiden Joko Widodo kemungkinan akan mengumumkan kebijakan terbaru mengenai BBM pekan depan.

Luhut menyebut, harga BBM subsidi yang saat ini sudah membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Rp 502 triliun.

"Nanti mungkin minggu depan Presiden akan mengumumkan mengenai apa bagaimana mengenai kenaikan harga ini (BBM subsidi),” katanya, dikutip dari Kompas.com.

“Jadi Presiden sudah mengindikasikan tidak mungkin kita pertahankan terus demikian karena kita harga BBM termurah di kawasan ini. Kita jauh lebih murah dari yang lain dan itu beban terlalu besar kepada APBN kita," sambungnya.(*)

Sumber: Tribun Timur
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved