Opini Hasnan Sutadi

Generasi yang Kehilangan Arti Merdeka

Merdeka bukan hanya berdasar kebebasan untuk memilihi segalanya, tapi merdeka juga berarti siap dan bertanggung jawab atas pilihan hidup.

Generasi yang Kehilangan Arti Merdeka
Hasnan
Hasnan Sutadi. Koordinator Divisi Karya FLP Cabang Makassar dan Mahasiswa FMIPA Unhas

Oleh: Hasnan Sutadi
Koordinator Divisi Karya FLP Cabang Makassar dan Mahasiswa FMIPA Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM - Beberapa waktu lalu, sepupu saya yang sudah lulus SMA bingung memilih jurusan kuliah. Sebelumnya dia telah mengikuti seleksi ikatan dinas atas permintaan orang tuanya. Namun karena gagal, ia akhirnya memilih melanjutkan studi di bangku kuliah reguler.

Menurut orang tuanya, dia sebaiknya memilih jurusan Manajemen atau Ilmu Komunikasi, tapi dia sendiri memilih untuk di jurusan Pertambangan yang notabene secara sektor keilmuan berbeda.

Ia bercerita bahwa temannya menyarankannya untuk di jurusan tersebut dengan iming-iming pelajarannya gampang dan dosennya jarang masuk. Persoalannya dia sendiri berasal dari jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial sewaktu SMA.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Apakah karena citra bekerja di dunia tambang menghasilkan gaji yang besar? Ikut lingkungan teman? Atau atas kemerdekaan untuk memilihi masa depan apa yang ingin diwujudkan?

Di lain sisi, ada yang aneh di masa SMA. Mengapa kelas jurusan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) lebih banyak dibanding jurusan Ilmu Pengetahuan (IPS)? Mengapa peserta olimipade sains bidang geografi dan ekonomi justru banyak juga diikuti oleh pelajar berlatar belakang MIPA? Lalu, mengapa banyak pelajar MIPA ingin mengambil jurusan sosial humaniora saat akan memasuki bangku kuliah atau sebaliknya?

Dilema SMA

Masa SMA memiliki nuansa tersendiri dari jenjang pendidikan di Indonesia. Pelajar sudah diarahkan untuk memiliki konsentrasi tipe jurusan, apakah akan memiliki minat di bidang matematika dan ilmu alam, ilmu-ilmu sosial, atau jurusan bahasa. Sehingga beban belajar karena beragamnya mata palajaran di jenjang SMP tidak sama lagi.

Sayangnya pemilihan jurusan justru kelihatan tidak sehat. Peminatan jurusan tidak didasarkan atas potensi siswa tapi hanya dibangun atas stereotipe masyarakat.

Bahwa siswa MIPA lebih pintar dibanding siswa IPS, siswa MIPA memiliki karakter yang lebih baik dari siswa IPS, atau semisalnya. Tak jarang siswa IPS lebih dicirikan sebagai siswa yang nakal sedangkan siswa MIPA yang lebih cenderung patuh dengan guru.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved