Opini Moh Zulkifli Mochtar

Belajar Dari Kertas Kecil

Tepat waktu adalah sebuah kewajaran dalam masyarakat Jepang. Jika harus terlambat, meminta maaf juga sebuah kewajaran.

TRIBUN TIMUR
Logo Tribun Timur - Opini Tribun Timur berjudul Belajar Dari Kertas Kecil 

Oleh: Muh Zulkifli Mochtar

Doktor alumni Jepang, bermukim di kota Tokyo

TRIBUN-TIMUR.COM - Tepat waktu adalah sebuah kewajaran dalam masyarakat Jepang. Jika harus terlambat, meminta maaf juga sebuah kewajaran. Di kereta apalagi; jika terlambat dari jadwal, announce di layar display kereta berkali kali mengucapkan permintaan maaf.

Sesingkat apapun keterlambatan itu. Saat saya naik bus, terdengar suara driver bus meminta maaf ke penumpang atas keterlambatan pemberangkatan, meski telatnya itu cuma semenit dua menit saja.

Padahal semua penumpang tahu dan melihat driver sebenarnya punya alasan terlambat karena harus membantu menaikkan wheel chair seorang ibu tua misalnya ke bus. Dalam skala kecil, budaya ini selalu terlihat dimana mana. Tercermin dalam aktifitas sehari hari.

Intinya disiplin waktu. Inilah salah satu nilai yang dipegang teguh komunitas Jepang. Tepat waktu adalah patokan sopan santun yang ditanamkan sejak kecil. Anak sekolah harus tiba di sekolah sepuluh menit sebelumnya. Terlebih lagi para pekerja.

Berbagai institusi layanan publik dan perkantoran sangat mencela ketidaktepatan waktu. Sedikit terlambat saja bisa menjadi masalah. Keterlambatan dipercaya akan merusak keharmonisan kerja, dianggap tidak mengedepankan kepentingan tim lain. Padahal pengrusakan hubungan komunikasi ini paling dihindari oleh komunitas Jepang. Sifat mengedepankan kepentingan orang lain harus selalu menjadi prioritas mereka.

Inilah yang dipercaya membangun budaya ketepatan waktu bagi masyarakat Jepang di era modern kini. S. Soekanto dalam buku Sosiologi Suatu Pengantar Budaya menulis, disiplin masyarakat Jepang adalah sebuah gambaran kompleks yang mencakup pengetahuan, moral, hukum, adat istiadat dan kemampuan-kemampuan mereka serta kebiasaan-kebiasaan atau pola perikelakuan yang membentuk struktur sosial dari masyarakat.

Nilai yang terwarisi dari generasi ke generasi, dibarengi stimulasi dari pendidikan dini di sekolah, dan juga melibatkan peran aktif orang tua dalam pembentukan karakter disiplin sejak dini.

Yang saya pahami selama ini, bentuk tepat waktu di Jepang adalah datang 10 menit sebelumnya. Untuk kasus kereta, terlalu cepat juga bisa mendatangkan masalah. Pernah seorang pimpinan perusahaan kereta api Jepang beberapa tahun lalu meminta maaf karena sebuah ‘insiden’ kereta berangkat 25 detik lebih cepat dari jadwal. Kereta berangkat dari stasiun Notogawa jam 07.11 dan 35 detik, lebih cepat 25 detik dari jadwal seharusnya.

Investigasi internal West Japan Railway menyimpulkan bahwa kondektur melakukan kesalahan memahami waktu keberangkatan dan menutup pintu terlalu cepat sebelum waktunya. Akibatnya ada penumpang mengeluh setelah ketinggalan kereta. Transportasi Jepang memang sangat akurat dan strictly dalam hal jadwal

Hingga penumpang kereta mengenal sebuah kertas kecil disebut Chien Shoumeisho atau Train Delay Certificate. Ini semacam notifikasi keterlambatan dikeluarkan operator kereta dan operator bus untuk tujuan informasi resmi keterlambatan jaringan transportasi mereka. Chien Shoumeisho bukan untuk pengembalian uang tiket. Sekedar pembuktian bahwa kereta telah terlambat dan dan tidak tepat waktu karena suatu hal. Kadang tertulis juga berapa menit keterlambatan kereta.

Kertas kecil Ini akan didistribusikan petugas kereta umumnya di gerbang tiket pada jalur jalur kereta yang delay. Saat ini bisa juga didownload dari website perusahaan kereta. Dengan menyerahkan Chien Shoumeisho ini ke tempat kerja atau sekolah, maka akan diketahui bahwa keterlambatan karena force majeure. Bukan karena kesalahan anda.

Mempelajari bagaimana budaya disiplin waktu Jepang dibangun adalah perlu. Maaf, bukan sekedar mempelajarinya. Yang lebih urgen adalah memahami maksudnya dan berikhtiar mewujudkannya sebagai perilaku sosial dalam budaya masyarakat kita. Dari secarik kertas kecil Chien Shoumeisho, semua pihak saling mengerti dan mempercayai.

Dari secarik kertas kecil ini tergambar bagaimana masyarakat Jepang membangun keteraturan sederhana dalam berdisiplin waktu. Bukan sekedar berkilah mempersalahkan macet, hujan, atau berbagai alasan alasan lain. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved