Opini Nurhaliza Amir

Mappadendang dan Ketahanan Pangan Sulsel

Pada Selasa, 9 Agustus 2022 diperingati sebagai Hari Masyarakat Adat Sedunia yang diperingati setiap tahun sejak 1994 lalu.

Mappadendang dan Ketahanan Pangan Sulsel
DOK PRIBADI
Nurhaliza Amir. Penulis opini Mappadendang dan Ketahanan Pangan Sulsel

Oleh: Nurhaliza Amir
Mahasiswi Departemen Ilmu Hama dan Penyakit Tumbuhan, Fakultas Pertanian Universitas Hasanuddin. Pengurus KM Penalaran Ilmiah Pertanian (PILAR) Unhas

TRIBUN-TIMUR.COM - Pada Selasa, 9 Agustus 2022 diperingati sebagai Hari Masyarakat Adat Sedunia yang diperingati setiap tahun sejak 1994 lalu.

Pada tanggal 13 September 2007, PBB mengesahkan Deklarasi PBB tentang Hak-Hak Masyarakat Adat.

Pada deklarasi tersebut berisi tentang hak atas tanah, wilayah, sumber daya, budaya, kekayaan intelektual, hukum adat, lembaga adat, dan hak-hak lainnya.

Setiap daerah memiliki adat atau tradisi khas untuk merayakan musim panen. Bagi masyarakat Bugis mengenalnya dengan tradisi Mappadendang.

Mappadendang adalah penamaan permainan rakyat atau pesta panen adat Bugis, atau dalam bahasa Makassar menamainya Appadekko.

Kata dendang dan dekko artinya irama atau alunan bunyi-bunyian sebagai suatu pesta syukur atas keberhasilannya dalam menanam padi terhadap Tuhan Yang Maha Kuasa.

Acara ini memiliki nilai magis yang disebut sebagai ‘pensucian’ gabah yang masih terikat dengan batangnya dan terhubung dengan tanah menjadi ase (beras) yang nantinya akan menyatu dengan manusia agar lebih berberkah.

Tujuan Mappadendang adalah untuk menjalin silaturahmi, sebagai hiburan, bahkan dijadikan ajang oleh pemuda-pemudi untuk mencari pasangan dan memupuk rasa kebersamaan.

Pada zaman dahulu untuk mengolah padi menjadi beras hanya dengan ditumbuk.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved