Opini Miftahul Hidayat

Kampus dan Budaya Parcel Mahasiswa

Belakangan ini lewat media sosial, ramai diperbincangkan budaya mahasiswa yang memberi parcel dan makanan kepada para pelaksana ujian.

TRIBUN TIMUR
Logo Tribun Timur - Opini Tribun Timur berjudul Kampus dan Budaya Parcel Mahasiswa 

Oleh: M Miftahul Hidayat

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah/FLP UIN Makassar, Fakultas Dakwah dan Komunikasi/UIN Alauddin Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM - Kampus saat ini mengalami krisis intelektual. Hal ini disebabkan karena adanya budaya-budaya yang tidak ilmiah dalam kampus. Kampus dikenal sebagai tempat para intelektual berkumpul, berdiskusi dan beradu gagasan untuk mencapai suatu kebenaran. Sehingga menjaga akal sehat dan kesadaran merupakan budaya dan tradisi perguruan tinggi yang harus dirawat.

Namun, Belakangan ini lewat media sosial, ramai diperbincangkan budaya mahasiswa yang memberi parcel dan makanan kepada para pelaksana ujian, sebelum dan sesudah ujian sarjana.

Dan hal ini bukan hal yang baru terjadi, melainkan sudah bertahun-tahun dilakukan oleh mahasiswa menjelang ujian. Budaya ini sudah demikian massif dan sistematik di Sebagian besar perguruan tinggi di Indonesia, khsusunya di Sulawesi Selatan.

Bahkan di beberapa Kampus, mahasiswa dituntut menyediakan snack dan makanan siang untuk para pelaksana ujian. Maka, tidak heran jika biaya yang dikeluarkan tiap mahasiswa bisa mencapai ratusan ribu. Tentu, untuk kapasitas mahasiswa itu terbilang banyak.

Di dalam lingkungan kampus yang menerapkan budaya parcel ini tentu menjadi hal yang membingunkan bagi mahasiswa. Antara memilih ikut pada mayoritas mahasiswa yang membawa makanan atau tidak. Dan tentu konsekuensinya menerima stigma yang akan muncul adalah kikir, mahasiswa yang perhitungan dan lain sebagainya.

Budaya seperti ini tentu menjadi beban bagi mahasiswa, berbeda misalnya mahasiswa yang memiliki ekonomi yang mapan.
Sehingga mahasiswa memiliki dua pilihan, antara terpaksa meminjam uang atau menunda ujian sampai cukup dana untuk membeli makan dan parcel. Atau pilihan terakhir, tidak membawa makanan sama sekali.

Mahasiswa dan dosen

Kesadaran dan upaya menghapuskan budaya yang tidak ilmiah dalam kampus harus lahir (dimulai) dari mahasiswa dan dosen itu sendiri.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved