Sengketa Lahan

Tak Terima Lahannya Dicaplok Kades untuk Banguni Pos Lantas, Warga Labuaja Cegat Bupati Maros

Polemik rencana pembangunan pos polisi lalu lintas (polantas) di Dusun Kappang, Desa Labuaja, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros, berlanjut. 

Penulis: Nurul Hidayah | Editor: Muh. Irham
Tribun Maros/Nurul Hidayah
Nurbaeti, salah seorang ahli waris tanah di Desa Labuaja, Kecamatan Cenrana, Maros, mencegat Bupati Maros Chaidir Syam di kantornya, Selasa (2/8/2022) sore. Ia menagdukan kepala desanya yang dianggap menyerobot tanahnya dengan membangun poslantas di atas lahannya tanpa persetujuan keluarga 

MAROS, TRIBUN-TIMUR.COM - Polemik rencana pembangunan pos polisi lalu lintas (polantas) di Dusun Kappang, Desa Labuaja, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros, berlanjut. 

Material bahan bangunan mulai didrop, padahal pemilik lahan tidak setuju.

Kepala Desa Labuaja, Asdar Nasir mengklaim pembangunan pos polantas di atas lahan yang dokumen PBB-P2-nya dimiliki ahli waris alm Lanti bin Pape itu, sudah melalui persetujuan sejumlah pihak.

"Kita sebelumnya sudah tanyakan ke Inspektorat, PMD, dan Camat," ujarnya di pelataran Kantor Bupati Maros, Selasa, (2/8/2022).

"Pak Dirlantas yang pertama kali datangi kami di kantor desa. Kami pilih lokasi itu karena strategis dan ada lapangan takraw yang dibangun menggunakan dana desa," tambah Asdar.

Dikonfirmasi terpisah, salah satu anak alm Lanti bin Pape, Nurbaya Lanti menuturkan benar bahwa lapangan takraw itu aset desa. 

Tetapi lapangannya saja, selama dipergunakan untuk lapangan takraw, izin akan diberikan. 

"Tetapi kalau sudah mau disalahgunakan, difungsikan lain atau dibanguni bangunan dua lantai, maaf saja. Kami tidak akan rida," ujarnya.

Lagipula, tambahnya, lahan lapangan takraw itu ada di tengah-tengah. 

Jika di situ didirikan bangunan, otomatis akan mengganggu jika pihak keluarganya juga ingin memanfaatkan lahan. 

Adik Nurbaya, Nurbaeti Lanti mengaku heran dengan kengototan kades menunjuk lahan milik keluarganya.

"Ada apa? Ada kok warga yang mau serahkan tanahnya. Lokasinya juga strategis karena sejajar dengan lokasi milik orang tua kami," tutur Nurbaeti.

Ia juga mengaku heran karena sudah ada pertemuan di kantor camat sebelumnya yang merekomendasikan penuntasan status lahan terlebih dahulu. 

"Nah, ini material bangunan sudah mulai dimasukkan. Ada apa? Apa gunanya kita pertemuan di kantor camat? Apa bisa seenaknya begitu saat ada warga yang dirugikan," tambahnya.

Nurbaeti dan saudaranya pun menemui Bupati Maros, Chaidir Syam, Selasa sore.

Mereka sampai mencegat bupati karena mengaku sudah tidak tahan mendapat perlakuan semena-mena. 

Protes ke pemerintah setempat tidak digubris oleh kades. 

"Jangan sampai pencaplokan seperti ini jadi budaya di desa kami. Masyarakat bisa direbut tanahnya dengan alasan pembangunan," keluhnya.

Sebelumnya, Camat Cenrana, Ismail Majid mengaku sudah memperingatkan Kades Labuaja membangun komunikasi dengan pemilik lahan. Namun tak kunjung dilakukan. Ia pun menyesali itu. (*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved