Kejar Kekurangan 850 Ribu Ton Konsumsi Gula Nasional, Kementan Siapkan 5 Strategi

Dari kebutuhan gula konsumsi nasional sebesar 3,2 juta ton, Kementerian Pertanian kini harus mengejar 850 ribu ton untuk memenuhi kebutuhan

Editor: Waode Nurmin
Kementan
Menjawab tantangan dari Presiden Joko Widodo soal produksi gula, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo meninjau langsung proses olah tanah, tanam dan panen tebu di Subang, Jawa Barat, Jumat (29/7). Konsumsi gula Indonesia masih kekurangan 850 ribu ton 

TRIBUN-TIMUR.COM - Menjawab tantangan dari Presiden Joko Widodo soal produksi gula, Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo meninjau langsung proses olah tanah, tanam dan panen tebu di Jawa Barat, Jumat (29/7).

Mentan SYL menjelaskan setelah rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Presiden Joko Widodo meminta untuk menghasilkan gula dengan varietes yang bagus.

Sebab menurut Presiden Jokowi, Indonesia masih punya cukup lahan untuk bisa menghasilkan gula berkualitas.

"Kita punya kemampuan untuk menghadirkan varietas yang bagus, bahkan beliau sudah mempersiapkan permodalan dalam skema KUR," kata Mentan di Desa Pasirbungur Kecamatan Purwadadi Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Bupati Subang, Ruhimat yang turut mendampingi mengatakan bahwa luas lahan yang ada di wilayahnya kurang lebih 220 ribu, di mana 60 persen dimiliki BUMN.

"Salah satu contoh, areal milik Perhutani itu masih ada yang satu spotnya saja mungkin dua kali yang ada di PG Rajawali ini Pak Menteri," ungakap Ruhimat.

Untuk diketahui, produksi gula nasional Tahun 2021 mencapai 2,35 juta ton atau naik 10,3 persen dibandingkan produksi Tahun 2020 yang sebesar 2,13 juta ton.

Produksi tersebut berasal dari produksi giling tebu dalam negeri oleh pabrik gula dan dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan gula konsumsi sebesar 3,2 juta ton, sehingga masih dibutuhkan tambahan produksi untuk swasembada sebesar 850 ribu ton Gula Kristal Putih (GKP).

Direktur Jenderal Perkebunan, Andi Nur Alam Syah menyampaikan bahwa untuk mengejar kebutuhan gula konsumsi nasional, pihaknya sudah menyiapkan lima strategi, yaitu identifikasi kesesuaian lahan baru untuk tebu, pemanfaatan lahan HGU yang terlantar, revitalisasi pabrik gula, investasi pabrik gula baru, dan perbaikan pola kemitraan antara pabrik gula dengan petani tebu.

"Ke depan, untuk memenuhi kekurangan 850 ribu ton itu, kami akan melakukan penanaman lahan baru seluas 75 ribu ha dengan pemanfaatan lahan Perhutani ataupun pada lahan HGU yang terbengkalai," imbuh Andi.

Selain penanaman, Andi juga menambahkan pendekatan intensifikasi dilakukan melalui bongkar ratoon seluas 75 ribu ha dan rawat ratoon seluas 125 ribu ha.

"Dari perluasan, bongkar dan rawat ratoon tersebut diharapkan mampu memberikan tambahan produksi serta menaikan produktivitas sehingga kekurangan sebesar 850 ribu ton GKP tersebut dapat terpenuhi," pungkasnya.

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved