Opini Mahsyar Idris

Bersatu Saling Menghargai Bukan Saling Menjatuhkan

Konsep wujudul hilal (WH) Haqiqi adalah konsep keliru sekaligus menyesatkan. Sebab menyamakan kosa kata hilal (cresent) dan bulan (moon).

TRIBUN TIMUR
Logo Tribun Timur 

Oleh: Mahsyar Idris
Pengajar Hadis dan Al-Islam Kemuhammadiyahan Pascasarjana IAIN Parepare dan Umpar

TRIBUN-TIMUR.COM - Meskipun terlambat saya ingin menanggapi empat hal terkait Prof Tasrief Surungan, WUJUDUL HILAL HAKIKI KELIRUSEKALIGUS MENYESATKAN dimuat tanggal 5/7/2022 di Tribun Timur.

Pertama, Konsep wujudul hilal (WH) Haqiqi adalah konsep keliru sekaligus menyesatkan. Sebab menyamakan kosa kata hilal (cresent) dan bulan (moon).

Padahal Al-Qur’an jelas jelas membedakannya (QS.2:189).

Saya yakin Ulama di Muhammadiyah sangat paham perbedaan pengertian alqamar (bulan) alhilal (bulan sabit) dan alsyahr (bulan) dalam al-Qur’an.

Bukankah cresent itu artinya bulan sabit dan moon artinya bulan? Al-Qur’an membedakan alqamar (bulan) ,al-hilal (bulan sabit) alsyahr (bulan dalam arti waktu).

Dalam bahasa Inggris juga dibedakan antara, moon,cresent dan month. Dalam KBI disebut bulan.

Logikanya, bahasa Indonesia , kosa katanya tidak sekaya bahasa Arab dan bahasa Inggeris, lalu Muhammadiyah yang disesatkan (perlu tabayun). QS.Yunus:5 al-syamsa dhiyaan (mata hari itu bersinar). alqamara nuuran ( bulan itu bercahaya) Jadi cahaya itu bukan sinar. Cahaya bukan benda tapi energi. Ketika sinar berhadapan dengan cahaya, pastilah cahaya tidak bisa nampak ketika sinar masih kuat.

Penampakan cahaya bulan saat merukyat itulah yg Prof sebut fenomena cahaya (hilal).

Itu pula yg dimaksud Muhammadiyah fenomena bulan (hilal).

Kedua, Konsep Wujud Hilal yang dianut Muhammadiyah adalah yang penting bulan (moon) sudah berada di atas ufuq (horizon) saat matahari terbenam maka bulan baru (new month) sudah masuk.

Tidak begitu saya kira, Buku Pedoman Hisab Muhammadiyah menyebutkan tiga kriteria: (1) Telah terjadi ijtima (2) Ijtima terjadi sebelum matahari terbenam (3) Pada saat terbenamnya matahari piringan atas bulan berada di atas ufuk.

Kriteria tsb penggunaannya secara komulatif artinya 1dari 3 kriteria tidak terpenuhi, dinyatakan bulan baru belum masuk.

Seperti halnya IR mempunyai 3 kriteria (Jurnal Isthinbat,2014,h.25). Yang intinya 3 derajat di atas ufuk.

Jadi kriteria baik WH maupun IR adalah hasil ijtihad atau hasil nalar terhadap nash (rabith ala nashshin).

Tidak arif saling menyalahkan apalagi saling menyesatkan.

Baik NU maupun Muhammadiyah keduanya mengakui keberadaan hisab dan rukyat. Bedanya NU menganggap ru’yak adalah taabbudi sedangkan hisab adalah taaqquli.

Jadi hisab digunakan sebagai pelengkap. sementara Muhammadiyah hisab tidak sekedar pelengkap.

Ketiga, Jika ingin menyudahi solusi perbedaan awal bulan maka hapus konsep wujudul Hilal Haqiqi.

Konsep itu keliru sekaligus menyesatkan. Luar biasa semangat Prof untuk “merobohkan” konsep WH. Tentang perbedaan awal bulan tidak bisakah disatukan?.Perintah hadis, Berpuasalah karena melihat hilal, jika tidak melihat hilal maka cukupkanlah bilangan Sya’ban menjadi 30 hari (isti’mal). Peru’yat memahami sebagai teori. Yakni Kalau meru’yat melihat bulan maka besok masuk bulan baru, jika tidak melihat bulan maka lusa masuk bulan baru.

Ini teori yang dibangun dari hadis. Kalau teori itu dari Nabi masih adakah teori yang bisa mengatasinya. tentu tidak.

Konsep inilah yang dipahami sebagai taabbudi. Jadi tidak mungkin peru’yat meninggalkan teori ini.

Inilah yang disebut menjaga mazhab sekaligus menjaga manhaj. Sama halnya pelaku hisab,dalam memahami perintah hadis, “Apabila kamu melihat hilal berpuasalah, dan apabila kamu melihatnya beridulfitrilah! Jika bulan terhalang oleh awan terhadapmu, maka estimasikanlah.

(HR.Muslim) Logikanya, Kalau meru’yat melihat bulan maka besok masuk bulan baru, kalau tidak melihat bulan maka estimasikanlah.

Tentu estimasi itu dengan Ilmu. Dari situ ditetapkan 3 kriteria WH. Ini teori yang dibangun dari hadis.

Jadi tidak mungkin pelaku hisab dengan mudah meninggalkan teorinya. Inilah yang disebut menjaga manhaj dan menghargai mazhab.

Keempat, Prof terlalu bersemangat mau bersatu hari lebaran, tetapi lupa bisakah disebut bersatu kalau terlebih dahulu menggusur teman.

Bisakah dikatakan membangun persatuan di atas kekecewaan dan kepedihan sesama anak bangsa.

Menurut KH.Hasyim Muzadi (almarhum) Bapak Yusuf Kalla pernah menawarkan Kriteria NU turun sedikit Muhammadiyah naik sedikit. Kata Kiyai kalau begitu pak tinggal,”Cash and Cary saja.

Itu tidak mungkin Pak JK. Kalau itu terjadi maka boleh jadi keduanya lari dari kebenaran.

Terakhir, solusi terhadap perbedaan antara pelaku hisab dan isbath kita Tinggalkan logika pertentangan yang mengatakan, Yang satu pasti benar yang lain pasti salah. Kita menganut logika pertentangan yang mengatakan, Tidak mungkin kedua-duanya salah tapi mungkin kedua duanya benar.

Logika ini disepakati oleh NU, Muhammadiyah MUI dan Kementerian Agama RI.

Bagi saya Orang pintar tidak cukup dengan ilmunya, harus dengan kearifan dan ilmunya. Wallahu a’lam bissawab.(*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved