Opini Mahsyar Idris

Bersatu Saling Menghargai Bukan Saling Menjatuhkan

Konsep wujudul hilal (WH) Haqiqi adalah konsep keliru sekaligus menyesatkan. Sebab menyamakan kosa kata hilal (cresent) dan bulan (moon).

TRIBUN TIMUR
Logo Tribun Timur 

Jadi kriteria baik WH maupun IR adalah hasil ijtihad atau hasil nalar terhadap nash (rabith ala nashshin).

Tidak arif saling menyalahkan apalagi saling menyesatkan.

Baik NU maupun Muhammadiyah keduanya mengakui keberadaan hisab dan rukyat. Bedanya NU menganggap ru’yak adalah taabbudi sedangkan hisab adalah taaqquli.

Jadi hisab digunakan sebagai pelengkap. sementara Muhammadiyah hisab tidak sekedar pelengkap.

Ketiga, Jika ingin menyudahi solusi perbedaan awal bulan maka hapus konsep wujudul Hilal Haqiqi.

Konsep itu keliru sekaligus menyesatkan. Luar biasa semangat Prof untuk “merobohkan” konsep WH. Tentang perbedaan awal bulan tidak bisakah disatukan?.Perintah hadis, Berpuasalah karena melihat hilal, jika tidak melihat hilal maka cukupkanlah bilangan Sya’ban menjadi 30 hari (isti’mal). Peru’yat memahami sebagai teori. Yakni Kalau meru’yat melihat bulan maka besok masuk bulan baru, jika tidak melihat bulan maka lusa masuk bulan baru.

Ini teori yang dibangun dari hadis. Kalau teori itu dari Nabi masih adakah teori yang bisa mengatasinya. tentu tidak.

Konsep inilah yang dipahami sebagai taabbudi. Jadi tidak mungkin peru’yat meninggalkan teori ini.

Inilah yang disebut menjaga mazhab sekaligus menjaga manhaj. Sama halnya pelaku hisab,dalam memahami perintah hadis, “Apabila kamu melihat hilal berpuasalah, dan apabila kamu melihatnya beridulfitrilah! Jika bulan terhalang oleh awan terhadapmu, maka estimasikanlah.

(HR.Muslim) Logikanya, Kalau meru’yat melihat bulan maka besok masuk bulan baru, kalau tidak melihat bulan maka estimasikanlah.

Tentu estimasi itu dengan Ilmu. Dari situ ditetapkan 3 kriteria WH. Ini teori yang dibangun dari hadis.

Jadi tidak mungkin pelaku hisab dengan mudah meninggalkan teorinya. Inilah yang disebut menjaga manhaj dan menghargai mazhab.

Keempat, Prof terlalu bersemangat mau bersatu hari lebaran, tetapi lupa bisakah disebut bersatu kalau terlebih dahulu menggusur teman.

Bisakah dikatakan membangun persatuan di atas kekecewaan dan kepedihan sesama anak bangsa.

Halaman
123
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved