Opini Tribun Timur

Menyoal Urgensitas Arah Kiblat Masjid di Sulawesi Selatan

Problematika urgensitas arah kiblat di Indonesia masih banyak menuai dinamika yang terjadi dalam sosio-kultur umat Islam.

Editor: Sudirman
Fathur Muhammad
Fathur Muhammad Alumni Ilmu Falak UIN Alauddin Makassar 

Dalam penentuan arah kiblat tentunya memerlukan suatu disiplin ilmu pengetahuan yang khusus seperti Ilmu Falak/Astronomi Islam.

Mengingat Jurusan ilmu falak juga telah ada dan berkembang di Fakultas Syariah dan Hukum Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar.

Tentunya mahasiswa dan sarjanawan ilmu falak yang berada di Sulawesi Selatan memiliki peranan penting dalam masalah kalibrasi arah kiblat masjid dan musalah.

Sehingga dapat meluruskan dengan metode atau non-metode dalam menentukan arah kiblat dan menjadi penengah di tengah-tengah keraguan dan ketidaktahuan masyarakat.

Masalah metode yang di maksud di sini adalah terkait bagaimana metode dalam penentuan arah kiblat yang berdasarkan Al-Qur’an dan hadist, fiqh (hukum Islam), dan astronomi.

Sedangkan non-metode adalah masalah yang berkaitan dengan aspek historis, sosial, keagamaan, budaya, dan bahkan psikologi jama’ah dan pengurus masjid dan musala di saat mengetahui adanya kemelencengan arah kiblat masjid yang mereka tempati beribadah.

Sangat dikhawatirkan jika kedua hal ini terjadi ketidaksesuaian, maka kalibrasi arah kiblat akan mengalami deviasi, yang benar menurut rumus dan teori tapi dalam pengimplementasian tidak dapat diterima sebagai sebuah kebenaran atau kewajiban bagi pengurus masjid.

Paradigma masyarakat akan terus mengalami pergerseran dan akan selalu menuai problematika dengan polemik yang terus berulang disetiap daerah.

Apabila tidak adanya pedoman khusus tentang metode pengukuran arah kiblat yang baik dan benar.

Akan tetapi, penolakan pengukuran arah kiblat dan verifikikasi yang baru juga sering kali terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Bahkan mereka tetap berpegang teguh pada arah kiblat yang telah ditentukan oleh tokoh agama atau sesepuh mereka yang dahulu masih menggunakan instrumen-instrumen sederhana dan masih terbilang tidak seakurat dengan instrumen sekarang ini.

Seyogianya, mahasiswa ilmu falak sebagai regenerasi dari tonggak perabadan Islam yang memiliki nalar rasionalis, analisis, kritis, universal dan sistematis dapat mengandalkan budi akal dan pengalamannya secara masif tidak hanya di kampus saja dan ruang-ruang diskusi organisasi intra-ekstra.

Tapi pada lingkungan dan daerah mereka masing-masing khususnya di Sulwesi Selatan, guna memberikan pemahaman arah kiblat sesuai dengan syariat Islam dan paradigma yang ilmiah. Nun, wa al-Qalam, wa Ma Yasthurun, Wa an-najm Idwa Hawa.(*)

Sumber: Tribun Timur
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved