Opini Tribun Timur

Menyoal Urgensitas Arah Kiblat Masjid di Sulawesi Selatan

Problematika urgensitas arah kiblat di Indonesia masih banyak menuai dinamika yang terjadi dalam sosio-kultur umat Islam.

Editor: Sudirman
Fathur Muhammad
Fathur Muhammad Alumni Ilmu Falak UIN Alauddin Makassar 

(2) kiblat bagi orang yang salat dan tidak dapat melihat Kakbah adalah arah Kakbah (jihatul Kakbah).

(3) kiblat umat Islam Indonesia adalah menghadap ke barat laut dengan posisi bervariasi sesuai dengan letak kawasan masing-masing.

Ibadah shalat dalam Islam merupakan syariat yang paling utama dan termasuk rukun Islam yang kedua, dimana umat Islam wajib melaksanakan shalat.

Oleh karena itu shalat mempunyai kedudukan khusus dalam kehidupan umat muslim.

Namun, menunaikan ibadah shalat tidak semata-mata hanya sekedar melaksanakannya saja tanpa memeperhatikan apa syarat dan rukunnya.

Dari beberapa syaratnya adalah syarat untuk melaksanakan shalat secara sah dan benar adalah mengetahui arah kiblat yang benar.

Para ulama bersepakat bahwa orang yang melaksanakan shalat wajib hukumnya menghadap ke arah masjidil Haram sesuai dengan firman Allah SWT. dalam QS. Al-Baqarah 2:150.

Seharusnya dengan adanya perintah dari Al-Qur’an dan fatwa tersebut telah menjadi pedoman masyarakat dalam penentuan arah kiblat masjid di Sulwesi Selatan ketika mendirikan sebuah masjid.

Di tambah lagi dengan peran Badan Hisab Rukyat Kementerian agama Provinsi Sulwesi Selatan yang memiliki hak dan kewajiban penuh dalam menysiarkan atau memverifikasi ulang arah kiblat masjid di daerah-daerah tersebut.

Namun tak dapat dipungkiri, bahwa persoalan arah kiblat tidak hanya mengandalkan otoritas dari pemerintah yang berwenang saja, namun membutuhkan dukungan dari masyarakat setempat.

Kurangnya perhatian masyarakat terhadap arah kiblat yang benar, dapat dibuktikan ketika mendirikan sebuah masjid tidak dilakukan pengukukuran terlebih dahulu oleh orang yang ahli dalam bidang ini, bahkan tidak melewati verifikasi arah kiblat dari pihak yang berwenang.

Contohnya, ketika sebuah masjid memiliki arah kiblat dengan nilai 291º51’14” dan mengalami kemelencengan sebesar 2º sampai 10º derajat, maka dapat dipastikan arah kiblat masjid tersebut sudah melenceng dari arah Kakbah.

Jika terjadi kemelencengan 2º derajat sebesar 222 km, maka hal tersebut tidak dapat lagi ditoleransi karena batas toleransi arah kiblat hanya sebesar 1º derajat saja.

Ilmu Falak

Halaman
123
Sumber: Tribun Timur
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved