Minyak Goreng

Beli Minyak Goreng Pakai Aplikasi PeduliLindungi, Pedagang Pasar Tramo: Pasti Bakalan Ribet

Penggunaan aplikasi PeduliLindungi saat pembelian minyak goreng akan menyulitkan pembeli dan pedagang.

Penulis: Nurul Hidayah | Editor: Hasriyani Latif
TRIBUN-TIMUR.COM/NURUL HIDAYAH
Pedagang Pasar Tramo, Zaenal saat ditemui Tribun-Timur.com di Pasar Tramo Maros, Jl Nasrun Amrullah, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan. Sejumlah pedagang di Pasar Tramo Maros merespon rencana pemerintah menggunakan aplikasi PeduliLindungi untuk minyak goreng curah rakyat. 

TRIBUNMAROS.COM, MAROS - Sejumlah pedagang di Pasar Tramo Maros merespon rencana pemerintah menggunakan aplikasi PeduliLindungi untuk minyak goreng curah rakyat (MGCR).

Seperti diketahui pemerintah mulai sosialisasi transisi perubahan sistem penjualan dan pembelian minyak goreng curah rakyat.

Dalam perubahan sistem penjualan dan pembelian MGCR menggunakan aplikasi PeduliLindungi atau menunjukkan NIK itu, bisa mendapatkan MGCR dengan harga eceran tertinggi (HET).

Pedagang di Pasar Tramo, Abbas, menilai penggunaan aplikasi PeduliLindungi saat pembelian minyak goreng akan menyulitkan pembeli dan pedagang.

“Pasti bakalan tibet, apalagi masih banyak pedagang yang kurang pandai menggunakan HP, itu pasti akan kesulitan,” katanya, Rabu (29/6/2022).

Ditambah lagi, lanjutnya, rata-rata pembeli minyak goreng di kiosnya orang tua.

“Bisa saja mereka tidak bisa mengakses aplikasi PeduliLindungi karena tidak memiliki smartphone,” bebernya.

Ia berharap pemerintah meninjau ulang kebijakan tersebut.

“Sekarang juga pasokan minyak goreng curah maupun kemasan‎ sudah kembali normal,” katanya.

Pedagang lainnya, Zaenal, mengaku sudah mendengar kabar kebijakan baru pemerintah tentang jual beli minyak goreng curah, namun belum mendapatkan sosialisasi secara langsung.

“Belum ada sosialisasi, kami berjualan masih seperti biasanya,” katanya.

Ia juga mengatakan pembelian minyak goreng curah menggunakan aplikasi PeduliLindungi akan semakin membuat proses transaksi berbelit-belit dan lama.

“Kebijakan tersebut akan sangat menganggu dan menjengkelkan,” ucapnya.

Menurutnya, kebijakan itu tidak perlu dilakukan karena hanya akan membuat masyarakat kecil bingung.

“Mending pemerintah fokus saja membangkitkan ekonomi, kenapa harus adalagi kebijakan seperti itu. Apalagi saat ini minyak goreng curah sudah tidak langka, sudah banyak,” katanya.

Terkait harga, sekarang minyak goreng curah harganya Rp 19 ribu per kilogram. Sementara untuk minyak goreng kemasan Rp 25 ribu per liter.

Senada, Pengunjung Pasar Tramo Syamsia mengaku kebijakan tersebut hanya akan mempersulit rakyat kecil.

“Saat ini sudah terlalu banyak aturan, tidak usah lagi ditambah-tambah, kita masyarakat kecil ini malah bingung,” tutupnya.(*)

Baca berita terbaru dan menarik lainnya dari Tribun-Timur.com via Google News atau Google Berita

Sumber: Tribun Timur
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved