Opini Tribun Timur

Makassar International Writers Festival: Memperkuat Ikatan Indonesia-Australia Melalui Sastra

Makassar International Writers Festival (MIWF) 2022, sebuah festival sastra yang bertujuan untuk menyebarkan kegembiraan dan meningkatkan minat baca

Editor: Sudirman
Rifqy Tenribali
Rifqy Tenribali Eshanasir, Pengamat hubungan internasional/alumnus Ritsumeikan Asia Pacific University, Beppu, Jepang 

Oleh: Rifqy Tenribali Eshanasir

Peneliti Muda di Puslitbang Konflik Perdamaian dan Demokrasi, Universitas Hasanuddin

Makassar International Writers Festival (MIWF) 2022, sebuah festival sastra yang bertujuan untuk menyebarkan kegembiraan dan meningkatkan minat membaca dan menulis masyarakat dari Rumata 'Artspace, akan dimulai Kamis ini dari 23-26 Juni.

Festival tahunan yang sudah berlangsung lama (dimulai sejak 2011) untuk merayakan sastra akan kembali minggu ini dengan mempertemukan beberapa penulis mapan dan baru secara langsung dan online dari seluruh Indonesia, khususnya Indonesia Timur, serta penulis dari luar negeri.

Tahun ini, MIWF mengangkat tema ‘Awakening’ dan berkomitmen untuk menjadi event rendah karbon dan nirsampah.

Pendiri dan Direktur MIWF Lily Yulianti Farid menjelaskan bahwa tema festival tahun ini, ‘Awakening’, yang berarti 'Kebangkitan' terhadap keragaman, termasuk pemahaman baru, cara berpikir, tekad, perspektif hidup, dan pelajaran yang kita semua pelajari dari pandemi COVID-19.

Bagaimanapun, pandemi telah mengganggu banyak aspek kehidupan, termasuk pendidikan dan literasi di seluruh dunia sejak dimulai pada tahun 2020.

Oleh karena itu, penulis dari luar negeri seperti dari Singapura, India dan Malaysia akan hadir untuk berdiskusi dan berbagi dengan rekan-rekan mereka di Indonesia.

Tentu saja, akan ada juga beberapa penulis Australia yang akan hadir di MIWF 2022. Penulis-penulis Australia memang telah menghadiri festival selama beberapa tahun sejak dimulai.

Di antara penulis Australia yang hadir tahun ini adalah Omar Musa, seorang penulis yang terkenal dengan beberapa buku puisi yang menyentuh tema migrasi dan ras di Australia serta novelnya yang dinominasikan penghargaan 'Here Come the Dogs'.

Selanjutnya adalah Beth Yahp, penulis pemenang penghargaan dan pengajar penulisan kreatif di University of Sydney.

Yah terkenal dengan fiksi pendek dan memoarnya seperti karya terbarunya 'Eat First, Talk Later', yang juga mengangkat masalah diaspora dan migrasi di Australia, di mana ia menggambarkan bekas rumah keluarganya di Malaysia.

Penulis terkenal lainnya dari Australia, atau yang menulis tentang Australia, termasuk penulis olahraga dan budaya pop Andy Fuller serta Pemimpin Redaksi Harvard Human Rights Review Kieren Salazar yang sering menulis tentang pengungsi di kawasan Pasifik.

Semua penulis yang disebutkan di atas dan lebih banyak lagi akan muncul pada hari pertama Makassar International Writers Festival tahun ini pada panel berjudul ‘Menghubungkan Indonesia dan Australia Melalui Inisiatif Sastra dan Terjemahan: Bagaimana Kita Dapat Meningkatkan Kemitraan’.

Bahkan, festival tahun ini di Makassar sangat signifikan, dimulai hanya dua minggu setelah Perdana Menteri Australia yang baru terpilih Anthony Albanese mengunjungi Makassar dan Universitas Hasanuddin pada 8 Juni bersama dengan Menteri Penny Wong, Ed Husic, Don Farrell serta beberapa delegasi pemerintah lainnya.

Kunjungan PM Albanese ke Indonesia dan Makassar menunjukkan minat Australia untuk memperdalam hubungan Australia dengan Indonesia yang meningkat dibandingkan dengan pemerintahan sebelumnya di bawah Scott Morrison.

Banyak pengamat bahkan membandingkan minat Albanese terhadap Indonesia dengan masa mantan Perdana Menteri Paul Keating di tahun 90-an, yang juga menekankan pengembangan hubungan bilateral dengan tetangga terdekat Australia.

Bagi Makassar, PM Albanese mungkin salah satu dari sedikit pemimpin negara yang pernah mengunjungi Ibukota Sulawesi Selatan, dan mengunjungi salah satu kota terbesar di Indonesia Timur di luar Jakarta adalah simbol dari pengakuan pemerintahnya akan pentingnya keragaman.

Kabinet PM Albanese sebagian besar dipuji karena memasukkan 10 perempuan, 2 muslim dan 1 penduduk asli Australia, yang membuatnya lebih jelas mewakili rakyat Australia yang semakin beragam.

Kunjungan PM Australia ke Makassar dua pekan lalu dan festival yang akan datang ini menunjukkan potensi masa depan yang cerah kerjasama antara Indonesia, Australia dan kawasan dalam beberapa tahun mendatang.

Seperti yang akan terlihat di Makassar International Writers Festival 2022, hubungan people-to-people antara tetangga Pasifik Selatan ini juga kuat dan dapat lebih diperkuat lagi, tidak hanya hubungan antara pemerintah.

Seiring dengan membaiknya situasi pandemi COVID-19 di Indonesia, Australia maupun di negara-negara lain, potensi kita untuk ‘bangkit’ bersama juga tumbuh.(*)

  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved