Sekolah Lapang Iklim
Kabupaten Barru Jadi Lokus Sekolah Lapang Iklim BMKG
Sekolah Lapang Iklim diletakkan di Kabupaten Barru karena Barru memiliki Luas Tambah Tanam (LTT) positif dan produktif.
Penulis: Darullah | Editor: Hasriyani Latif
TRIBUNBARRU.COM, BARRU - Pertanian Kabupaten Barru menjadi lokus Sekolah Lapang Iklim (SLI) dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Pusat.
BMKG memilih barru sebagai lokus SLI dengan mengusung tema 'Mewujudkan Ketahanan Pangan Berbasis Cuaca dan Iklim'.
Kepala Dinas Pertanian Barru, Ahmad, Rabu (22/6/2022), menjelaskan BMKG memilih Barru sebagai lokus SLI berdasarkan kriteria penilaian tertentu.
"Sekolah Lapang Iklim diletakkan di Kabupaten Barru karena Barru memiliki Luas Tambah Tanam (LTT) positif dan produktif," ujarnya.
"Sehingga pengaturan dan peletakan pola tanam LBH efisien yang berdampak pada peningkata Indeks Pertanaman (IP) lebih berkembang," lanjut Ahmad.
Lokus SLI juga dalam rangka pelayanan BMKG terhadap penyajian data, informasi pelayanan jasa meteorologi, klimatologi, kualitas udara, dan geofisika yang akurat, tepat sasaran, tepat guna, cepat, lengkap, dan dapat dipertanggungjawabkan.
"Alhamdulillah ini rejeki buat Petani di Barru karena hasilnya akan kita lihat dan jadikan rujukan bersama untuk kemajuan pertanian khususnya untuk menyusun pola tanam produktif dan efektif," jelasnya.
"Tentunya program ini akan berujung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat petani," ungkapnya.
Ia pun mengapresiasi atas kesediaan program BMKG untuk memusatkan Sekolah Lapang Iklim untuk kepentingan semua pihak khususnya pertanian daerah.
"Karena tentunya program seperti ini akan membawa pengetahuan baru kepada para petani di Barru," tambahnya.
Tujuan utama SLI ini, kata Ahmad, adalah meningkatkan wawasan petani tentang informasi iklim dan cuaca BMKG, dan menggunakan informasi tersebut untuk kegiatan pertanian.
"Sebagaimana kita pahami keberhasilan pertanian dipengaruhi beberapa faktor, antara lain seperti bibit yang digunakan, sistem pengolahan tanah, dan sistem pengairan serta kondisi iklim," tuturnya.
Dalam sistem pertanian bibit yang digunakan, sistem pengolahan tanah dan sistem pengairan merupakan faktor yang dapat dikendalikan oleh manusia.
Adapun faktor iklim merupakan faktor alam yang belum dapat kendalikan manusia baik dari segi variabilitas iklimnya maupun proses perubahan iklim itu sendiri.
"Masalahnya kemudian terdapat jarak pada pemahaman informasi iklim yang disampaikan oleh BMKG kepada publik termasuk para petani. Seperti memahami arti normal iklim, fenomena el nino dan la nina dan juga perbedaan cuaca dan iklim itu sendiri," paparnya.
"Karena itulah kemudian diadakanlah Sekolah Lapang Iklim ini guna mengurangi gap pemahaman informasi iklim termasuk cuaca didalamnya kepada masyarakat, khususnya petani," tutupnya.(*)
Laporan Wartawan TribunBarru.com, Darullah
Baca berita terbaru dan menarik lainnya dari Tribun-Timur.com via Google News atau Google Berita
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/Kepala-Dinas-Pertanian-barru-Ir-Ahmad.jpg)