Perkumpulan Wija Raja Bone

Akademisi FIB Unhas: Geopark Sesungguhnya Ada di Bone, Perwira Bone Siapkan Bone Jadi Soul of Bugis

Pakar Geologi dan Geopark Unhas Prof Asri Jaya menuturkan bahwa wisata, geologi, budaya menjadi kawasan geopark. Termasuk Songkok Recca

Editor: AS Kambie
Ciurtesy: Sapri Pamulu
Pemateri FGD bersama Ketua Umum Perkumpulan Wija Raja (Perwira) Bone La Patau Matanna Tikka Sapri A Pamulu di Hotel Novena Watampone, Rabu (4/5/2022). Para pemateri: Prof Andi Kasmawati Rahmab, Prof Asri Jaya, Dr Muhlis Hadrawi, Dr Yadi Mulyadi dan Dr Andi Muhammad Akhmar, Drs Ahmad Saransi MSi, serta Andi Sofyan Hadi. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Masa liburan Lebaran dimanfaatkan Perkumpulan Wija Raja Bone La Patau Matanna Tikka, Perwira Bone, menggelar Focus Group Discussion (FGD). 

Focus Group Discussion (FGD) dimaksud digelar di Hotel Novena Watanpone, Bone, hari ketiga pasca-Lebaran, Rabu, 4 Mei 2022.

Ketua Umum Perwira Bone Sapri Pamulu mengatakan, Focus Group Discussion (FGD) dan beberapa kegiatan lainnya diadakan merupakan tindak lanjut dari rekomendasi tudang sipulung pada Pertemuan Akbar Sedunia Wija Puatta La Patau, Raja Bone Ke-16, akhir tahun lalu.

Dirut BUMN Indah Karya (Persero) itu melaporkan bahwa kegiatan ini juga untuk mendukung Pemkab Bone dalam upaya pemajuan kebudayaan di Bone khususnya dalam rangka membumikan Bone sebagai Soul of Bugis.

FGD tentang Puatta La Patau diikuti unsur pemerintah, LSM, jurnalis, dan pemerhati budaya di kabupaten Bone.

Para materi yang sempat hadir, Prof Andi Kasmawati Rahmab, Prof Asri Jaya, Dr Muhlis Hadrawi, Dr Yadi Mulyadi dan Dr Andi Muhammad Akhmar, Drs Ahmad Saransi MSi, serta Andi Sofyan Hadi.

"Bone merupakan salah satu daerah besar, yang memiliki nilai besar adat dan budaya. Jangankan daerah lain nusantara, Bone juga dikenal sebagai sebuah kerajaan besar yang dulunya sangat dihargai, bahkan terkenal hingga di luar negeri. Dengan demikian, kegiatan FGD ini diselenggarakan guna menguatkan lembaga adat daerah Bone," jelas Sapri Pamulu.

Menurut Sapri Pamulu, kegiatan lainnya yg digagas Perwira Bone adalah menerbitkan 2 buku dari 24 buku harian (lontaraq bilang) raja-raja Bone dari periode tahun 1660 sampai tahun 1910.

Dalam sambutan berikutnya, Bupati Bone Andi Fahsar Padjalangi, mengatakan bahwa sejak dulu Bone sangat terkenal begitu besar, namun sekarang kurang besar dan akan kembali menjadi lebih besar.

“Namun jangan membentuk kerajaan, sebab kita jadi kerdil. Tapi untuk peningkatan kebudayaan misalnya lembaga adat, sangat menjadi prioritas,” kata Andi Fahsar Padjalangi.

Halaman
123
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    Tribun JualBeli
    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved