Perang Rusia Ukraina

Taiwan Diam-diam Pelajari Cara Ukraina Bertahan Jika Sewaktu-waktu Juga Diserang China

perlawanan Ukraina akan menjadi strategi pertempuran Taiwan jika terjadi perang dengan China

Editor: Ilham Arsyam
HANDOUT / TAIWAN DEFENCE MINISTRY / AFP
Gambar baru-baru ini dirilis oleh Kementerian Pertahanan Taiwan pada 5 Juni 2020 menunjukkan rudal Stinger buatan AS diluncurkan selama latihan di Pingtung County, Taiwan selatan. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Sejak Rusia menginvasi Ukraina, sejumlah negara yang bertetangga dengan musuhnya lebih waspada.

Salah satunya adalah Taiwan. Taiwan diketahui bertetangga dengan China yang selama ini sering berseteru.

Ahli strategi militer Taiwan bahkan telah diam-diam mempelajari invasi Rusia ke Ukraina.

Dan, perlawanan Ukraina akan menjadi strategi pertempuran Taiwan jika terjadi perang dengan China.

"Ukraina, di bawah kondisi yang tidak menguntungkan dari musuh yang lebih besar dari mereka, telah secara efektif menahan serangan militer Rusia," kata Kementerian Pertahanan Taiwan dalam laporan kepada parlemen pada Kamis (10/3), seperti dilansir Reuters.

Militer Taiwan telah "merujuk" pengalaman Ukraina untuk bisa memanfaatkan pertempuran di tanah airnya dan sudah memasukkan "perang asimetris" ke dalam perencanaan, Kementerian Pertahanan Tawian menambahkan.

Presiden Taiwan Tsai Ing-wen telah memperjuangkan gagasan "perang asimetris", untuk membuat pasukannya lebih mobile dan sulit diserang, misalnya, dengan memasang rudal di kendaraan.

Hanya, tidak peduli siapa yang menang dalam perang di masa depan antara Taiwan dan China, itu akan menjadi "kemenangan yang menyedihkan", Menteri Pertahanan Taiwan Chiu Kuo-cheng mengatakan pada Kamis (10/3).

Menurut Chiu, kedua belah pihak akan membayar harga yang mahal jika terjadi konflik antara China dan Taiwan, dengan Beijing telah berjanji untuk merebut kembali pulau itu, dengan kekerasan jika perlu.

“Jika terjadi perang, terus terang, semua orang akan sengsara, bahkan untuk pemenangnya,” katanya, seperti dikutip Reuters.

"Seseorang harus benar-benar memikirkan ini," ungkap Chiu sebelum sesi parlemen Taiwan tentang implikasi keamanan dari invasi Rusia ke Ukraina.

"Semua orang harus menghindari perang".

Sementara Taiwan telah meningkatkan tingkat siaganya sejak perang di Ukraina, Taipe melaporkan, tidak ada kegiatan militer China yang tidak biasa.

Meskipun, Angkatan Udara China terus melakukan misi sesekali ke zona identifikasi pertahanan udara Taiwan.

Halaman
1234
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved