Breaking News:

Opini Tribun Timur

Perempuan dalam Pasungan Politik Estetika

Tetapi begitulah sejarah berkehendak bahwa hanya mau diukir oleh Andi Ina Kartika Sari, begitu ia dipanggil, bukan yang lain.

Editor: AS Kambie
Perempuan dalam Pasungan Politik Estetika
DOK
Yarifai Mappeaty, Alumnus Universitas Hasanuddin

Oleh: Yarifai Mappeaty
Penulis Roman Biografi

Semenjak berlakunya konstitusi (UU 22/2007) yang menjamin keterwakilan perempuan minimal 30%, baik di dalam kepengurusan partai politik maupun di dalam rekruitmen bakal calon legislatif (bacaleg), kaum perempuan benar-benar menemukan momentum kebangkitannya di dunia politik.

Di jagad politik Sulawesi Selatan (Sulsel), misalnya, kiprah kaum perempuan patut mendapat apresiasi.

Bahkan, jika ukurannya adalah kuantitas keterpilihan di parlemen yang terus mengalami peningkatan, maka keliru jika masih ada yang memandang remeh kiprah mereka.

Namun demikian, kiprah kaum perempuan di dunia politik, masih tetap saja ada yang memandangnya sinis dan meletakkannya pada perspektif politik estetika, sebagai pemanis demokrasi.

Di era Orde Baru hingga sebelum UU 22/2007 diberlakukan, politik estetika memang sulit ditepis.

Namun ceritanya menjadi berbeda setelah konstitusi tersebut diberlakukan sejak pemilihan legislatif (pileg) 2009.

Pileg 2009 adalah pemilihan anggota legislatif yang mulai menganut sistem suara terbanyak.

Di sini, caleg perempuan langsung menunjukkan geliatnya dengan meraih 13 kursi, naik sekitar 62% dari pileg 2004 yang menganut sistem nomor urut.

Kemudian, pada pileg 2014, kursi legislator perempuan kembali bertambah menjadi 19 kursi.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

Tribun JualBeli
© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved