Breaking News:

Opini Tribun Timur

Simulakra Banjir

Ketika itu terjadi, sepuluh tahun lalu itu, ingatan warga tertuju pada situasi sebelumnya, menengok masa lampau yang tidak pernah terdampak banjir.

Editor: Sudirman
Simulakra Banjir
dok. tribun
F Daus AR - Komite Komunitas Demokrasi Pangkep

Oleh: F Daus AR

Bergiat di Lembaga Demokrasi Celebes

Jika mengingat kembali lumpuhnya lalu lintas di sejumlah titik jalan Trans Sulawesi, bisa dipacak pada 2012, peristiwa sepuluh tahun lalu itu menandai situasi komunal warga di beberapa kabupaten di Sulawesi Selatan yang mengalami langsung kebanjiran.

Ketika itu terjadi, sepuluh tahun lalu itu, ingatan warga tertuju pada situasi sebelumnya, menengok masa lampau yang tidak pernah terdampak banjir.

‘Baru kali ini rumah saya kebanjiran’/ ‘Baru kali ini jalan poros terendam.’

Kira-kira seperti itulah ekspresi keheranan mengalami peristiwa yang belum pernah dialami sebelumnya.

Kini, setelah sepuluh tahun yang lalu itu dan ingatan banjir sudah merayapi ingatan kolektif warga, maka, keheranan itu sudah berubah menjadi kekhawatiran.

‘Mengapa banjir masih terjadi’/Mengapa luapan air semakin tinggi’. Asumi umum ini bisa menjadi perwakilan
kekhawatiran.

Pemukiman warga yang terdampak bukan lagi kawasan kumuh atau kawasan padat rumah sehingga bisa menggugurkan penilaian yang sejauh ini terawat jika banjir itu akibat ulah warga yang membuang sampah sembarangan.

Cara pandang ini menyandarkan pada sampah yang berserakan dan tidak terkelola di kawasan kumuh atau rumah padat tersebut.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved