Breaking News:

Cerita CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin

CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin Ditanya Ibunya Apa Kerjamu, Nak? Dijawab 'Cuma Pengelola Pasar, Ma'

Chief Executive Officer atau CEO Bukalapak.com Tbk (BUKA), Rachmat Kaimuddin (42), bercerita soal pekerjaan di bidang e-commerce dalam dua tahun

Penulis: Thamzil Thahir | Editor: Edi Sumardi
DOK BUKALAPAK
CEO Bukalapak, Rachmat Kaimuddin 

TRIBUN-TIMUR.COM - Chief Executive Officer atau CEO Bukalapak.com Tbk (BUKA), Rachmat Kaimuddin (42), bercerita soal pekerjaan di bidang e-commerce dalam dua tahun terakhir.

Cerita ini dikemukakan alumnus Massachusetts Institute of Technology (Bsc) dan Stanford Graduate School of Business (MBA) ini, saat bertandang ke kantor Tribun-Timur.com, di Jl Cenderawasih nomor 430, Makassar, Sulsel, bersama Head of Communication and Sustainability Bukalapak Herry Cahyono, Senin (22/11/2021) siang.

Rachmat Kaimuddin berkisah, sebelum bergabung di raksasa unicorn e-commerce global asal Indonesia ini, ibunya Andi Harliah Patunru (66), bertanya soal pekerjaan barunya di perusahaan dangan 6,6 juta pelapak dan 8,7 juta Mitra Bukalapak itu.

Pelapak adalah individu atau kelompok orang yang menjual produknya di Bukalapak, sedangkan Mitra Bukalapak adalah penjual offline beberapa kategori produk yang ada di Bukalapak.

"Saya ini (ibarat) pengelola pasar-ji, Ma (mama). Yang atur ukuran lapak, jaga kebersihan pasar, atur biar transaksi pedagang dan pembeli tetap adil, dan tidak saling merugikan," kata Rachmat Kaimuddin menjelaskan kerja barunya sebagai pengganti Achmad Zaky, CEO Bukalapak, per 2020 lalu.

Perumpamaan pengelola pusat transaksi pelapak atau  "mandor pasar" ini digunakan putra ketiga dari empat saudara ini, sebab ibunya sejak awal tahun 1990-an, menjadi single parent dengan jadi pedagang dan tukang cicil pakaian di kerabat, sahabat, dan tetangganya di Jl Mappaouddang, Kecamatan Mamajang, selatan Kota Makassar.

Hingga sebelum pandemi, bisnis jualan pakaian itu masih dijalankan sang ibu dari rumah.

Kaimuddin Bausat, sang ayah, meninggal saat Rachmat Kaimuddin duduk di bangku kelas I SMP.

Rachmat Kaimuddin pun lalu bercerita tentang tantangan baru jabatannya setelah Bukalapak resmi melantai di bursa efek Indonesia, atau Initial Public Offering (IPO), awal Agustus 2021 lalu.

Alumnus SMA Taruna Nusantara ini menjelaskan, menjelaskan hingga Juni 2021, perusahaan yang dia kelola sudah bermitra dengan 8,7 juta pelapak level UMKM di Indonesia.

Sejak IPO, Bukalapak tercatat sabagai perusahaan unicorn pertama di Indonesia yang melantai di bursa.

Direktur Utama BEI, Inarno Djajadi, saat IPO di BEI, mengatakan BUKA adalah perusahaan startup teknologi unicorn pertama yang tercatat di BEI.

Bahkan, kata Inarno Djajadi, belum pernah ada perusahaan yang mampu menghimpun dana sebesar BUKA.

“Dengan jumlah dana yang berhasil dikumpulkan sebesar Rp21,9 triliun, menjadikan IPO Bukalapak sebagai yang terbesar dalam sejarah bursa saham Indonesia,” kata Djajadi.

Bukalapak kini terus mendapat tingkat kepercayaan yang cukup tinggi dari para investor, terhadap pemberdayaan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) di Indonesia.(thamzil thahir)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved