Khazanah Islam
Puasa Senin Kamis, Ketahui Waktu Terbaik Sahur dan 7 Amalan Saat Berbuka Puasa
Puasa Senin Kamis menjadi salah satu puasa sunnah yang paling dicintai Nabi Muhammad SAW.
TRIBUN-TIMUR.COM - Umat muslim dianjurkan melaksanakan puasa Senin Kamis.
Selain mendapatkan pahala, berpuasa sangat bermanfaat bagi kesehatan.
Bagi yang ingin mengamalkan puasa besok, ketahui waktu terbaik sahur yang dijelaskan oleh Ustaz Adi Hidayat.
Seperti diketahui, puasa Senin Kamis menjadi salah satu puasa sunnah yang paling dicintai Nabi Muhammad SAW.
Dari ‘Aisyah Radhiallahu anha, ia mengatakan, “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam sangat antusias dan bersungguh-sungguh dalam melakukan puasa pada hari Senin dan Kamis”. (HR. Tirmidzi, an-Nasa-i, Ibnu Majah, Imam Ahmad)
Saat berpuasa, sahur menjadi salah satu amalan sunnah yang diajarkan nabi.
Rasulullah SAW tidak pernah melewatkan sahur, bahkan dalam sebuah hadist dari Abdullah bin Al Harits dari seorang sahabat Rasulullah SAW, "Aku masuk menemui Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ketika dia makan sahur, beliau berkata, "Sesungguhnya makan sahur adalah barokah yang Allah berikan pada kalian maka janganlah kalian tinggalkan." (HR An Nasaa`i dan Ahmad).
Lantas amalan mulia apa yang dapat kita lakukan saat sahur?
Dikutip TribunStyle.com dari YouTube Ceramah Pendek berjudul Dahsyatnya Keutamaan Waktu Sahur, Ustaz Adi Hidayat menjelaskan 2 amalan mulia di waktu sahur.
1. Mengakhirkan waktu sahur
Ustaz 36 tahun tersebut menyarankan untuk sahur pada 30 menit sebelum subuh.
"Jadi kalau anda ingin menunaikan sahur, makan sebelum puasa itu yang sunnah dilakukan 30 menit paling awal sebelum subuh, ini yang disebut sahur
Jadi kalo jam 3 setengah 3 itu belum sahur.
Itu terlalu awal, itu sama hukumnya anda makan jam 10 malam, jam 11 kan, kadang-kadang dari masjid sudah ada ssuara kan jam setengah 3 sahur sahur, nah nanti malam kasih tahu belum belum
Belum masuk waktunya belum itu masih terlalu awal.
Ya Rasulullah apa faedahnya kenapa kami harus dapatkan menjelang fajar kisaran 20-30 menit?
Kata Nabi kalo anda bisa kerjakan ini anda bisa dapatkan barokah yaitu bertambahnya satu manfaat kebaikan.
Manfaatnya akan lebih banyak kata Nabi dibandingkan anda makan di awal-awal.
Kalo anda makan jam 3 setengah 3 itu energi akan bertambah ada kekuatan, tapi beda ketika anda makan menjelang fajarnya 30 menit
Kalo kita asumsikan waktu sahur hingga berbuka dimisalkan selama 13 jam namun ditambah waktu sahur yang dicepatkan satu jam jadi dari segi kekuatan tidak berimbang.
Maka lakukan ini tuntunan ini ada pahala disini." jelasnya.
Selain itu, ustaz Adi hidayat juga menjelaskan jika mengakhirkan sahur dapat membuat kita memiliki ketahanan lebih tinggi untuk beribadah.
"Karena anda energinya masih kuat, kekuatan masih ada, semangat menunaikan ibadah masih banyak daripada yang lainnya.
Masa anda bisa digunakan untuk baca Alquran, perbanyak sunnhanya, perbanyak sodaqoh.
Biasanya semakin berkurang tenaga, energinya habis maka bawaannya lemas, teman lemas itu tidur." beber ustaz kelahiran Pangeglang tersebut.
Hal ini senada dengan hadist Bukhari muslim sebagai berikut.
Anas radhiyallahu 'anhu meriwayatkan dari Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu, "Kami makan sahur bersama Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, kemudian beliau shalat, aku tanyakan (kata Anas)
Berapa lama jarak antara adzan dan sahur? Rasulullah menjawab, "Kira-kira 50 ayat membaca Al Qur'an." (HR Bukhari Muslim).
2. Memperbanyak istighfar
Selain mengakhirkan waktu makan dan minum, ustaz Adi Hidayat juga menyarankan muslim untuk memperbanyak beristighfar sebelum subuh.
Amalan ini bisa membawa kita semakin dekat pada surga.
"Anda kalo bisa kerjakan ini, itu jaminannya di Auran mendapatkan nikmat surga yang tidak biasa, surga paling indah, bisa melihat Allah tanpa hijab, bahkan bisa dikatakan tingkatnya bisa lebih dari surga, lebih indah, lebih tinggi.
Q.S 51:18 itu amalannya, kalo ingin ayat lengkapnya dan anugerahnya anda bisa mulai dari ayat 15 disitu langsung disebutkan pahalanya, surganya dimana kenikmatan seperti apa.
Diantara amalannyaa ayat ke 18, ada sementara orang takwa yang nanti tinggalnya di taman surga,
Apa amalannya? Q.S. 51:18 dan di waktu-waktu sahur itu mereka memperbanyak istighfar pada Allah.
Astaghfirullahaladzim, minta ampun pada Allah.
Jadi kalo bisa saya sarankan anda bagi dua waktunya sebagian buat makan, sebagian buat istighfar, setelah itu selesai makan itu anda tutup, siapkan diri anda untuk mendekat pada Allah, itu waktu-waktu paling luar biasa."
UAH menjelaskan jika amalan ini bisa dilakukan secara mandiri ataupun bersama-sama keluarga.
Selain saat bersahur, kita juga bisa menambah pahala saat momen berbuka puasa.
Berikut 7 amalan sunnah saat berbuka puasa Senin Kamis dan menu buka puasa favorit Nabi SAW
1. Menyegerakan berbuka
Yang dimaksud menyegerakan berbuka puasa, bukan berarti kita berbuka sebelum waktunya.
Namun yang dimaksud adalah ketika matahari telah tenggelam atau ditandai dengan dikumandangkannya adzan Maghrib, maka segeralah berbuka.
Dan tidak perlu sampai selesai adzan atau selesai shalat Maghrib.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ يَزَالُ النَّاسُ بِخَيْرٍ مَا عَجَّلُوا الْفِطْرَ
“Manusia akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka menyegerakan berbuka.” (HR. Bukhari no. 1957 dan Muslim no. 1098)
Dalam hadits yang lain disebutkan,
لَا تَزَالُ أُمَّتِى عَلَى سُنَّتِى مَا لَمْ تَنْتَظِرْ بِفِطْرِهَا النُجُوْمَ
“Umatku akan senantiasa berada di atas sunnahku (ajaranku) selama tidak menunggu munculnya bintang untuk berbuka puasa.” (HR. Ibnu Hibban 8/277 dan Ibnu Khuzaimah 3/275, sanad shahih).
2. Berbuka dengan rothb, tamr atau seteguk air.
Di Indonesia banyak sekali menu berbuka puasa khas Ramadhan seperti kolak, dawet, es pisah ijo, es buah dsb.
Namun apa menu berbuka puasa yang sebenarnya Rasulullah SAW contohkan?
Sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas bin Malik di atas, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat menyukai berbuka dengan rothb (kurma basah) karena rothb amat enak dinikmati.
Namun kita jarang menemukan rothb di negeri kita karena kurma yang sudah sampai ke negeri kita kebanyakan adalah kurma kering (tamr).
Jika tidak ada rothb, barulah kita mencari tamr (kurma kering). Jika tidak ada kedua kurma tersebut, maka bisa beralih ke makanan yang manis-manis sebagai pengganti. Kata ulama Syafi’iyah, ketika puasa penglihatan kita biasa berkurang, kurma itulah sebagai pemulihnya dan makanan manis itu semakna dengannya (Kifayatul Akhyar, 289).
Jika tidak ada lagi, maka berbukalah dengan seteguk air. Inilah yang diisyaratkan dalam hadits Anas di atas.
3. Berbuka dengan susu
Selain dengan rothb, tamr atau air putih, Rasulullah SAW juga berbuka dengan air susu.
Dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ أَطْعَمَهُ اللَّهُ الطَّعَامَ فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ. وَمَنْ سَقَاهُ اللَّهُ لَبَنًا فَلْيَقُلِ اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ
“Barang siapa yang Allah beri makan hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa ath’imnaa khoiron minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan berilah kami makan yang lebih baik darinya). Barang siapa yang Allah beri minum susu maka hendaknya ia berdoa: “Allaahumma baarik lanaa fiihi wa zidnaa minhu” (Ya Allah, berkahilah kami padanya dan tambahkanlah darinya). Rasulullah shallallahu wa ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak ada sesuatu yang bisa menggantikan makan dan minum selain susu.” (HR. Tirmidzi no. 3455, Abu Daud no. 3730, Ibnu Majah no. 3322, hasan)
4. Berdo’a ketika berbuka “Dzahabazh zhoma-u …”
Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata,
كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- إِذَا أَفْطَرَ قَالَ « ذَهَبَ الظَّمَأُ وَابْتَلَّتِ الْعُرُوقُ وَثَبَتَ الأَجْرُ إِنْ شَاءَ اللَّهُ ».
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika telah berbuka mengucapkan: ‘Dzahabazh zhoma’u wabtallatil ‘uruqu wa tsabatal ajru insya Allah (artinya: Rasa haus telah hilang dan urat-urat telah basah, dan pahala telah ditetapkan insya Allah)’.” (HR. Abu Daud no. 2357, hasan).
Do’a ini bukan berarti dibaca sebelum berbuka dan bukan berarti puasa itu baru batal ketika membaca do’a di atas.
Ketika berbuka, mulailah dengan membaca ‘bismillah’, lalu santaplah beberapa kurma, kemudian ucapkan do’a di atas ‘dzahabazh zhoma-u …’. Karena do’a di atas sebagaimana makna tekstual dari “إِذَا أَفْطَرَ “, berarti ketika setelah berbuka.
Catatan: Adapun do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa ‘ala rizqika afthortu (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku berbuka)” Do’a ini berasal dari hadits hadits dho’if (lemah). Begitu pula do’a berbuka, “Allahumma laka shumtu wa bika aamantu wa ‘ala rizqika afthortu” (Ya Allah, kepada-Mu aku berpuasa dan kepada-Mu aku beriman, dan dengan rizki-Mu aku berbuka), Mula ‘Ali Al Qori mengatakan, “Tambahan “wa bika aamantu” adalah tambahan yang tidak diketahui sanadnya, walaupun makna do’a tersebut shahih.
5. Memanjatkan doa secara umum sebagai waktu mustajab
Ketika berbuka adalah waktu mustajabnya do’a. Jadi janganlah seorang muslim melewatkannya. Manfaatkan moment tersebut untuk berdo’a kepada Allah untuk urusan dunia dan akhirat. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
ثَلاَثَةٌ لاَ تُرَدُّ دَعْوَتُهُمُ الإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حِينَ يُفْطِرُ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ
“Ada tiga orang yang do’anya tidak ditolak : (1) Pemimpin yang adil, (2) Orang yang berpuasa ketika dia berbuka, (3) Do’a orang yang terzholimi.” (HR. Tirmidzi no. 2526 dan Ibnu Hibban 16/396, shahih).
Ketika berbuka adalah waktu terkabulnya do’a karena ketika itu orang yang berpuasa telah menyelesaikan ibadahnya dalam keadaan tunduk dan merendahkan diri (Lihat Tuhfatul Ahwadzi, 7: 194).
6. Memberi makan berbuka orang lain
Jika kita diberi kelebihan rizki oleh Allah, manfaatkan waktu Ramadhan untuk banyak-banyak berderma, di antaranya adalah dengan memberi makan berbuka karena pahalanya yang amat besar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لاَ يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
“Siapa memberi makan orang yang berpuasa, maka baginya pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa itu sedikit pun juga.” (HR. Tirmidzi no. 807, Ibnu Majah no. 1746, dan Ahmad 5/192, hasan shahih)
7. Mendoakan orang yang memberi makan berbuka
Ketika ada yang memberi kebaikan kepada kita, maka balaslah semisal ketika diberi makan berbuka. Jika kita tidak mampu membalas kebaikannya dengan memberi yang semisal, maka doakanlah ia. Dari ‘Abdullah bin ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَمَنْ صَنَعَ إِلَيْكُمْ مَعْرُوفًا فَكَافِئُوهُ فَإِنْ لَمْ تَجِدُوا مَا تُكَافِئُونَهُ فَادْعُوا لَهُ حَتَّى تَرَوْا أَنَّكُمْ قَدْ كَافَأْتُمُوهُ
“Barangsiapa yang memberi kebaikan untukmu, maka balaslah. Jika engkau tidak dapati sesuatu untuk membalas kebaikannya, maka do’akanlah ia sampai engkau yakin engkau telah membalas kebaikannya.” (HR. Abu Daud no. 1672 dan Ibnu Hibban 8/199, shahih)
Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam diberi minum, beliau pun mengangkat kepalanya ke langit dan mengucapkan,
اللَّهُمَّ أَطْعِمْ مَنْ أَطْعَمَنِى وَأَسْقِ مَنْ أَسْقَانِى
“Allahumma ath’im man ath’amanii wa asqi man asqoonii” [Ya Allah, berilah ganti makanan kepada orang yang memberi makan kepadaku dan berilah minuman kepada orang yang memberi minuman kepadaku]” (HR. Muslim no. 2055)
(TribunStyle.com / Triroessita Intan P)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/cara-berwudhu-ustadz-adi-hidayat.jpg)