Makassar Mulia
Kota Makassar Komitmen Dalam Kreatifitas

Hadapi Kuartal ke-4, Pemerintah Waspadai Kebijakan Tapering Off

Pemerintah menggelar siaran pers yang menjelaskan perkembangan pemulihan ekonomi. Menteri Keuangan menyampaikan kondisi terkini pemulihan ekonomi

Editor: Suryana Anas
Tangkapan layar Youtube Sekretariat Negara
Siaran Pers Menteri Keuangan, Sri Mulyani menjelaskan perkembangan pemulihan ekonomi yang ditayangkan melalui kanal youtube Sekretariat Negara, pada Rabu (17/11/21) sore. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Pemerintah  Indonesia menggelar siaran pers yang menjelaskan perkembangan pemulihan ekonomi yang ditayangkan melalui kanal youtube Sekretariat Negara Rabu (17/11/21) sore.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani menyampaikan kondisi terkini pemulihan ekonomi yang telah dibahas dalam sidang kabinet Indonesia Maju.

"Untuk persiapan akhir tahun, pada sidang kabinet dibahas perkembangan ekonomi terkini dan pelaksanaan APBN 2021," ujarnya

Pada Kuartal ke 3, Sri menjelaskan bahwa telah terjadi pemulihan ekonomi pada beberapa sisi seperti permintaan, konsumsi, investasi, impor dan ekspor.

"Di sektoral seperti perdagangan, manufaktur, pertambangan, akomodasi, transportasi, pertanian juga mengalami pemulihan," lanjutnya.

Pemerintah memprediksi bahwa di kuartal ke 4 akan meningkat cukup kuat dikarenakan beberapa indikator.

"Beberapa indikator terjadi peningkatan,seperti ekspor dan impor mencapai 50 %, consumer confidence Index meningkat, retail sales index, serta Purchasing Managers Index (PMI) manufaktur," sambungnya.

Di pasar keuangan, Indonesia juga mengalami penguatan dengan yield surat berharga yang mengalami penurunan dan index harga saham yang mengalami perbaikan.

Perlu diketahui, yield berlawanan arah dari harga, sehingga turunnya yield menunjukkan harga obligasi yang sedang menguat.

"Yield surat berharga kita mengalami perbaikan dengan strep menurun dari US Treasury, pada awal juli 2021 diangka 515 bps, sekarang sudah 449. Untuk harga saham juga mengalami perbaikan," jelasnya.

Disisi lain, Menteri Keuangan menjelaskan tantangan yang mesti diwaspadai dapat mempengaruhi perekonomian indonesia

Pertama, kecenderungan inflasi yang disebabkan kenaikan harga produser dari beberapa negara seperti di kawasan eropa sebesar 16,3%, di China 13,5% dan  Amerika Serikat 8,6%. Sedangkan harga produser di Indonesia juga mengalami kenaikan sebesar 7,3%.

Adanya kenaikan harga produser ini diwaspadai akan meningkatkan harga ditingkat konsumen yang diukur menjadi inflasi.

Kedua, jika kenaikan inflasi maka kemungkinan terjadinya tappering off atau Federal Reserve disesuaikan dengan kenaikan inflasi yang sangat tinggi mencapai diatas 6% di Amerika Serikat.

"Secara historis,misalnya kenaikan federal funds rate ini bisa menimbulkan guncangan dari sisi capital flow ke emerging country dan menimbulkan exest nilai tukar," ujarnya.

"Kini, Indonesia harus mewaspadai kemungkinan dinamika global yang berasal dari kebijakan tappering off," tutupnya.

Indonesia kini telah bersiap dengan membagun pondasi ekonomi untuk menjaga stabilitas menghadapi dinamika tersebut.

Laporan Wartawan Magang Tribun Timur, Faqih Imtiyaaz

Sumber: Tribun Timur
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved