Opini

Pemilihan Kepala Desa: Dapur dan Budaya Politik Lainnya

PEMILIHAN Kepala Desa (Pilkades) menjadi salah satu pesta dekomrasi yang banyak mengundang perhatian. Di samping karena memiliki kedekatan yang sangat

Editor: Edi Sumardi
TRIBUNSIDRAP.COM/NINING ANGREANI
Ilustrasi, pemungutan suara Pilkades di Kabupaten Sidrap, Sulsel. 

Dr Qudratullah SSos MSos

Dosen Institut Agama Islam Negeri atau IAIN Bone

PEMILIHAN Kepala Desa (Pilkades) menjadi salah satu pesta dekomrasi yang banyak mengundang perhatian. Di samping karena memiliki kedekatan yang sangat erat dengan masyatakat desa, juga budaya-budaya politik yang manarik.

Pilkades menjadi sangat khas karena sifatnya yang di mana pemilih memilih satu orang, bukang pasangan calon.

Namun ada pula yang kurang baik dalam pesta demokrasi Pilkades, salah satunya adalah persaingan yang tidak sehat melalui sorak-sorakan nyata saling menjatuhkan, bahkan ujaran kebencian yang disampaikan melalui platform media sosial.

Gesekan dalam pesta demokrasi Pilkades seringkali muncul dari ‘dapur’ sementara yang biasanya dibuat sebagai posko atau base camp pemenangan calon kepala desa.

Dari situ akan muncul batas-batas dalam sebuah masyarakat, pengelompokan dan penarikan diri individu yang menganggap tidak memiliki kesamaan pilihan.

Kemudian, dapur sementara semakin memicu konflik dalam suatu kelompok masyarakat yang sering kali menyetel musik-musik volume tinggi saat jam tidur atau istirahat.

Dalam hal ini, demokrasi Pilkades dengan keberadaan dapur bayangan politik seakan-akan menjadi hal yang bebas dilakukan oleh siapa saja tanpa memikirkan ketenanga orang lain.

Lupakan dapur sementara yang masih terlihat jelas, ada hal lain yang masih menjadi budaya politik dalam pesta demokrasi Pilkades, yakni menggunakan cara-cara mistis.

Kepercayaan sebagaian masyarakat akan kekuatan mistis memang telah ada sejak dahulu kala.

Daniel O’Keefe dalam Stolen Lightning: The social theory of magic, Through magic humanity has forever rebelled and then enslaved itself anew in structures of alienation of its own making. This is the story of the human past. It is also the record of the secular present, when even in a scientific age magical protest serves to remind us of the transcendent in everyday life. Yet, concomitantly and perennially, magic’s Pyrrhic victories obscure man’s native understanding that this transcendence is partly of his own making. This darkening of vision is evident in the current rash of escapist cults and mechanical rituals for transforming the self and the world. However, as this book emphasizes, even in less exotic forms the influence of magic remains pervasive (O’Keefe, 1982).

Melalui sihir, manusia selamanya memberontak dan kemudian memperbudak dirinya lagi dalam struktur keterasingan yang dibuatnya sendiri.

Ini adalah kisah masa lalu manusia. Ini juga merupakan catatan masa kini sekuler, ketika bahkan di zaman ilmiah protes magis berfungsi untuk mengingatkan kita akan yang transenden dalam kehidupan sehari-hari.

Halaman
12
Sumber: Tribun Timur
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved