Breaking News:

Opini

Pemilihan Kepala Desa: Dapur dan Budaya Politik Lainnya

PEMILIHAN Kepala Desa (Pilkades) menjadi salah satu pesta dekomrasi yang banyak mengundang perhatian. Di samping karena memiliki kedekatan yang sangat

Editor: Edi Sumardi
TRIBUNSIDRAP.COM/NINING ANGREANI
Ilustrasi, pemungutan suara Pilkades di Kabupaten Sidrap, Sulsel. 

Dr Qudratullah SSos MSos

Dosen Institut Agama Islam Negeri atau IAIN Bone

PEMILIHAN Kepala Desa (Pilkades) menjadi salah satu pesta dekomrasi yang banyak mengundang perhatian. Di samping karena memiliki kedekatan yang sangat erat dengan masyatakat desa, juga budaya-budaya politik yang manarik.

Pilkades menjadi sangat khas karena sifatnya yang di mana pemilih memilih satu orang, bukang pasangan calon.

Namun ada pula yang kurang baik dalam pesta demokrasi Pilkades, salah satunya adalah persaingan yang tidak sehat melalui sorak-sorakan nyata saling menjatuhkan, bahkan ujaran kebencian yang disampaikan melalui platform media sosial.

Gesekan dalam pesta demokrasi Pilkades seringkali muncul dari ‘dapur’ sementara yang biasanya dibuat sebagai posko atau base camp pemenangan calon kepala desa.

Dari situ akan muncul batas-batas dalam sebuah masyarakat, pengelompokan dan penarikan diri individu yang menganggap tidak memiliki kesamaan pilihan.

Kemudian, dapur sementara semakin memicu konflik dalam suatu kelompok masyarakat yang sering kali menyetel musik-musik volume tinggi saat jam tidur atau istirahat.

Dalam hal ini, demokrasi Pilkades dengan keberadaan dapur bayangan politik seakan-akan menjadi hal yang bebas dilakukan oleh siapa saja tanpa memikirkan ketenanga orang lain.

Lupakan dapur sementara yang masih terlihat jelas, ada hal lain yang masih menjadi budaya politik dalam pesta demokrasi Pilkades, yakni menggunakan cara-cara mistis.

Halaman
123
Sumber: Tribun Timur
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved