Breaking News:

Thomas Cup 2020

Indonesia Juara Thomas Cup 2020, Tapi Tak Boleh Kibarkan Bendera Merah Putih

Meski menang, namun Indonesia tak dibolehkan mengibarkan bendera merah putih dalam seremoni penyerahan medali dan piala.

Editor: Muh. Irham
BADMINTON PHOTO/YVES LACROIX
Pebulu tangkis Indonesia, Jonatan Christie (24).  

TRIBUN-TIMUR.COM - Tim Thomas Indonesia akhirnya berhasil mengembalikan Piala Thomas setelah 19 tahun lepas. Kemenangan Indonesia atas China dalam Final Thomas Cup 2020, Minggu (17/10/2021), menjadi momen paling bahagia yang dirasakan seluruh masyarakat Indonesia, khususnya para pecinta bulutangkis.

Namun, di tengah kebahagiaan tersebut, Indonesia harus menelan pil pahit. Meski menang, namun Indonesia tak dibolehkan mengibarkan bendera merah putih dalam seremoni penyerahan medali dan piala.

Indonesia dipastikan tidak bisa mengibarkan bendera Merah Putih di Thomas Cup dan sebagai gantinya bendera dengan logo Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI) yang bakal dikibarkan.

Dalam ajang Thomas Cup, empat negara semifinalis ikut menghadiri upacara penutupan dan masing-masing bendera negara bakal dikibarkan.

Namun untuk Thomas Cup 2020 ini, Indonesia tidakbisa mengibarkan bendera Merah Putih.

"Informasi yang saya dapatkan dari Kabid Luar Negeri PP PBSI, Bambang Roedyanto, infonya memang seperti itu. Jadi tidak ada bendera Merah Putih tetapi diganti logo PBSI," ucap Kabid Humas dan Media PBSI, Broto Happy.

Bambang Roedyanto sendiri sudah memastikan bahwa pihaknya telah dihubungi Badminton World Federation (BWF) terkait larangan penggunaan bendera Merah Putih dan pemakaian bendera dengan logo PBSI sebagai penggantinya.

Larangan pengibaran bendera Merah Putih ini terkait permasalahan dengan World Anti Doping Agency (WADA). WADA menyebut Indonesia tak patuh dalam program uji tes doping.

Pada 15 September lalu WADA mengirim surat pada Lembaga Anti-Doping Indonesia (LADI) terkait ketidakpatuhan program uji doping.

Indonesia tak bisa memenuhi test doping plan (TDP) tahun 2020 dan juga belum memenuhi TDP untuk tahun 2021.

Sejumlah negara dikirimi surat dan punya waktu 21 hari untuk memberikan klarifikasi. Indonesia tidak memberikan klarifikasi, seperti halnya Thailand dan Korea Utara. WADA lalu melayangkan surat ancaman sanksi pada 7 Oktober.

Menpora Zainudin Amali bahkan mengaku baru mengetahui kasus ini pada 8 Oktober. Menpora menyebut perubahan struktur kepengurusan LADI jadi salah satu alasan Indonesia telat memberikan klarifikasi.

Menpora sendiri menyebut sudah mengirim surat agar Indonesia tak dijatuhi sanksi.

"Kalau ke WADA kami sudah kirim surat. Jadi kita berusaha ini akan kita lakukan dengan baik. Mudah-mudahan dengan penjelasan dari kami bisa ada pembicaraan lebih lanjut," ucap Amali pada 8 Oktober lalu.

Indonesia saat ini tengah bersiap menghadapi Denmark dalam duel semifinal Thomas Cup, Sabtu (16/10).(*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved