Breaking News:

Human Interest Story

Kisah Sukses Haji Ahmad, 10 Tahun Belajar Resep Pallubasa Bermodal Hasil Kayuh Becak

Perlu ketekunan dan keseriusan saat merintis usaha. Tidak menyerah kala merugi dan bersyukur di saat untung.

Penulis: Muslimin Emba | Editor: Suryana Anas
TRIBUN-TIMUR.COM/MUSLIMIN EMBA
Haji Ahmad (46) ditemui di lapak Pallubasa Alauddin, Jl Sultan Alauddin, Makassar, Rabu (13102021) siang. 

Namun, demikian, sang bos kata dia tetap memberinya upah.

Ia pun semangat dan bertahan hingga 10 tahun lamanya.

Saat usianya menginjak 23 tahun, H Ahmad mempersunting wanita idamannya.

Ialah sang istri yang saat ini setia menemaninya berjualan pallubasa.

Sepuluh hari setelah menikah, ia pun memilih mundur menjadi karyawan pallubasa.

Alasannya, sudah saatnya merintis usaha sendiri. Terlebih sang istri merestui.

Bermodalkan pengalaman 11 tahun menjadi karyawan, Pallubasa Alauddin asuhan Ahmad pun berdiri.

Berdiri saat peralihan kekuasaan orde baru ke reformasi (Soeharto-Bj Habibie: 1998-1999).

Saat itu, bayang-bayang kerusuhan etnis di Makassar masih terasa.

Bayang kerusuhan itu, kata dia, pun memuluskan jalannya memperoleh lahan usaha.

Lokasi usaha pertamanya, di Jl Sultan Alauddin tidak jauh dari pertigaan Jl Mannuruki Raya.

Di sana, ia mengaku sempat merugi dan banting stir menjadi pengayuh becak.

Butuh waktu tiga bulan mengayuh becak untuk Ahmad mengumpulkan modal kembali.

Tiga bulan berselang, usaha Pallubasanya kembali berdiri.

Lokasinya bergeser ke Jl Andi Tonro.

Berjalan beberapa bulan, Ahmad mendapati musibah.

Sang mertua jatuh sakit dan harus dirawat. Ia pun mengalihkan modal pallu basanya untuk merawat sang mertua.

Sambil merawat mertua, Ahmad kembali mengayuh becak untuk mengumpulkan modal.

Dan beberapa bulan setelahnya, sang mertua sembuh.

Ahmad pun membangun kembali usaha Pallubasa di Jl Sultan Alauddin.

Lokasinya yang ditempatinya belasan tahun terakhir hingga saat ini.

"Jadi boleh di bilang, ini usaha pallubasaku modal goyang becak, ilmunya itu waktu saya ikut-ikut di Datu Museng," tuturnya.

"Intinya, merintis usaha itu memang tidak mudah. Perlu keseriusan dan ketekunan," ucapnya.

Saat ini, warga Komplek PU Mallengkeri itu, telah dikaruniai tiga anak.

Dua anaknya masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.

Sementara si sulung sudah kuliah di salah satu kampus swasta di Makassar. (TRIBUN-TIMUR/MUSLIMIN EMBA)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved