Breaking News:

Tribun Sulsel

24 Tambang Liar Beroperasi di Sungai Jeneberang, Balai Gakkum dan LHK Sebut ini Kerugian Besar

Kepala Balai Gakkum dan LHK Wilayah Sulawesi, Dodi Kurniawan, membeberkan terjadi multi kejahatan di wilayah Tambang Jeneberang Kabupaten Gowa

Penulis: Siti Aminah | Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM/SANOVRA JR
Bendungan Salomekko yang terletak di Desa Ulu Balang, Kecamatan Salomekko, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan (Sulsel) terekam dari udara, Sabtu (7/11/2020). Bendungan Salomekko dibangun tahun 1998 lalu dan kini sudah berusia 22 tahun. Dengan kapasitas 8,2 juta meter kubik dan masuk dalam klasifikasi bahaya tingkat 4 dari 5 klasifikasi. Bendungan ini merupakan bendungan Urugan Tanah dengan inti kedap yang merupakan bendung dalam wilayah kerja Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang dan salah satu bendungan yang masuk ke dalam bendungan yang perlu dibuat dokumen RTD atau Rencana Tanggap Darurat oleh Kementerian PUPR Direktorat Sumber Daya Air. 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR -Balai Pengamanan dan Penegakan Hukum Lingkungan Hidup dan Kehutanan (Gakkum dan LHK) Wilayah Sulawesi menemukan 24 tambang liar di wilayah Sungai Jeneberang.

Kepala Balai Gakkum dan LHK Wilayah Sulawesi, Dodi Kurniawan, membeberkan terjadi multi kejahatan di wilayah Tambang Jeneberang Kabupaten Gowa.

"Kenapa disebut kejahatan? Karena ada beberapa kerugian di sepanjang sungai Jeneberang," beber Dodi Kurniawan, di Ruang Rapim Kantor Gubernur Sulsel, Senin, (11/10/2021).

Hal tersebut mengakibatkan hancurnya sungai Jeneberang.

Hancurnya sungai itu disebabkan masalah tambang.

"Saya kira bisa dilihat bahwa ada multi dimensi faktor dan multi pelaku, multi kejahatan," ucapnya.

Selain tambang liar, ada juga dugaan pungli pajak kendaraan yang keluar masuk. 

"Contoh di sana ada pajak. Nah siapa yang menikmati pajak yang ada di sana setiap hari dan terjadi pungli," ungkapnya.

Karena itu, perlu ditelusuri pihak yang melakukan pungutan apakah Pemerintah Gowa atau memang ada pihak yang diuntungkan. 

Sementara itu, Sekretaris Daerah Provinsi Sulsel, Abdul Hayat Gani, berharap ada langkah cepat untuk perlindungan kerusakan di sekitar sungai Jeneberang.

Pemerintah provinsi siap menjadi supporting sistem jika ada hal yang bisa dikerjasamakan.

"Kalau kita bisa support kenapa tidak? Ini untuk kepentingan satu daerah dalam mempercepat perlindungan untuk masyarakat," ungkap Abdul Hayat. 

Menurut dia, dengan melihat keadaan Das Jeneberang sekarang ini, dimana-mana ada tambang yang diyakini menjadi ancaman bagi semua. 

"Mudah-mudahan dari paparan informasi nanti, ada semacam ide gagasan untuk kita bisa lakukan secara bersama-sama," harapnya. (*)

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved