Otto Warmbier
Hanya karena Suvenir, Otto Warmbier Disiksa 17 Bulan oleh Korea Utara, Niat Keliling Dunia Pun Kacau
Otto Warmbier, baru lulus SMA dan berniat keliling dunia, malah justru disiksa berbulan-bulan di Korea Utara hanya karena ambil hal sepele
Akhirnya dunia melihat Warmbier kembali dalam sebuah video, dengan ia mengatakan di depan para jurnalis
jika ia memang mengambil tanpa izin poster propaganda dari daerah terlarang hotel di lantai 2 Hotel Yanggakdo untuk dibawa pulang.
Video tersebut dirilis oleh Korea Utara pada Februari 2016, ia mengakui kesalahannya dan memohon untuk dimaafkan dan dilepaskan.
Ia terlihat begitu menyedihkan pada saat itu, dan beberapa pihak menyebut pengakuan tersebut dipaksakan oleh pihak Korea Utara.
Pasalnya, saat ia berhasil pulang ke Amerika ia sudah dalam kondisi yang sangat mengerikan.
Untuk kejahatannya, Warmbier diberi hukuman 15 tahun kerja paksa di Korea Utara.
Akhirnya, ia habiskan 17 bulan di Korea Utara sebelum akhirnya dibebaskan.
Ia kemudian dibawa oleh helikopter medis ke Amerika. Setelah ia sampai di Amerika, rupanya ia dalam keadaan koma.
Dokter di University of Cincinnati Medical Center mengatakan kondisinya sudah sanfat parah, dan ia menderita kerusakan jaringan di seluruh bagian otaknya.
Saat ia dirawat, Warmbier tidak berbicara, bergerak atau merespon komunikasi verbal apapun.
Hanya dalam seminggu kemudian, sosok Otto Warmbier yang seorang petualang sejati meninggal dunia.
Selanjutnya dalam konferensi pers, dokter mengatakan kondisinya adalah "kesadaran tidak responsif", dan mengungkapkan ia telah menderita kerusakan otak selama ia dipenjara 17 bulan di Korea Utara.
Namun Korea Utara menampik bahwa mereka telah menyiksa Warmbier, mereka menyebutkan ia sakit karena keracunan makanan bahkan menyalahkannya karena mengkonsumsi pil tidur terlalu banyak.
Namun dokter yang merawatnya dan mengotopsinya tidak temukan bukti sakit tersebut di tubuh Warmbier.
Bebasnya Warmbier dari siksaan Korea Utara tidak lepas dari upaya diplomasi yang dikerahkan oleh pihak administrasi mantan presiden Barrack Obama, termasuk mantan Menlu Amerika John Kerry dan Kedutaan Besar Swedia sebagai mediator Amerika dan Korea Utara.