Breaking News:

Tribun Makassar

Ingat, Jempolmu Harimaumu! Begini Cara Tangkal Hoax Menurut Indrabayu

Digital literasi ini adalah kemampuan memahami, mengalisis, menilai, mengatur dan mengevaluasi dengan menggunakan teknologi digital.

Penulis: Firki Arisandi | Editor: Hasriyani Latif
Tangkapan layar Youtube Tribun Timur
Sekretaris Departemen Teknik Informatika, Dr Indrabayu, menjadi pemateri dalam Webinar Kalla Group, Sabtu (11/9/2021). 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Digital Literasi menjadi poin penting dalam materi yang disampaikan oleh Sekretaris Departemen Teknik Informatika, Dr Indrabayu dalam webinar yang digelar Kalla Group, Sabtu (11/9/2021).

Webinar ini disiarkan secara langsung melalu Youtube Kalla Group, dan beberapa channel youtube, termasuk Tribun Timur.

Webinar seri ke-11 ini, membahas tentang 'Melawan Hoax dan Disinformasi Data Vaksinasi Covid-19'.

Dosen Universitas Hasanuddin Makassar ini membeberkan jika salah satu cara menangkal hoax ini adalah dengan memiliki kemampuan digital literasi.

Menurut Deaking University yang dipaparkan Indrabayu digital literasi ini adalah kemampuan memahami, mengalisis, menilai, mengatur dan mengevaluasi dengan menggunakan teknologi digital.

"Jadi kalau kita membuka sosial media, terus dapat kiriman hoax lalu kita tidak menganalisis artinya kita memang tidak paham digital literasi," paparnya.

Digital literasi untuk masyarakat menjadi sangat penting dewasa ini.

"Artinya apa, pada saat Anda menggunakan teknologi digital Anda harus punya awareness, kesadaran," tuturnya.

Peribahasa 'mulutmu harimaumu', di era saat ini bak bertransformasi menjadi 'jempolmu harimaumu'.

"Anda ketik sesuatu maka akan memiliki impact terhadap individu dan masyarakat yang melihat. So be careful, hati-hati," tegasnya.

"Jangan kalau dipanggil polisi baru mengaku khilaf," tambahnya.

Olehnya itu seluruh masyarakat wajib diberikan pendidikan literasi. 

"Ingat jempolmu adalah harimaumu, satu kali share yes, broadcast, maka selamat tinggal Anda telah melakukan kejahatan baru, Anda menyebar fitnah," tambahnya.

Jadi informasi tidak boleh dibagikan asal berdasarkan emosi, namun harus dipahami, dianalisis, dan dinilai.(*)

Laporan Wartawan Tribun Timur, Firki Arisandi

Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved