Darmawan Denassa Raih Penghargaan Kalpataru 2021
Ini kampung berjarak sekitar 19,2 km selatan Sungguminasa, ibu kota Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Penulis: Sayyid Zulfadli Saleh Wahab | Editor: Saldy Irawan
TRIBUN-TIMUR.COM, GOWA - Darmawan Denassa, warga Bontonompo Gowa, meraih Kalpataru Bidang Perintis Lingkungan.
Darmawan Denassa terpilih meraih penghargaan Kalpataru tahun 2021 dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Darmawan Denassa merupakan perintis Rumah Hijau Denassa (RHD).
RHD ini adalah kawasan konservasi alam seluas 1,1 Hektar di Kampung Borongtala, Kelurahan Tamallayang, Kecamatan Bontonompo.
Ini kampung berjarak sekitar 19,2 km selatan Sungguminasa, ibu kota Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan.
Kata 'konservasi' dilekatkan penggagas sekaligus pemilik lahan itu, Darmawan Daeng Nassa.
Denassa saat ditemui, Jumat (10/9/2021) siang, bersyukur atas penghargaan yang diterimanya.
"Alhamdulillah, pasti senang dan bangga terpilih tahun ini sebagai penerima Kalpataru untuk kategori perintis lingkungan," ujarnya.
RHD digagas sejak tahun 2007 lalu, sebagai area konservasi dan edukasi.
Sebagai area konservasi, dia mengaku menyelamatkan keanekaragaman hayati khususnya tumbuhan lokal, enjenik dan langkah.
Dijelaskan, Rumah Hujau Denassa ini dibuat karena mulai berkurangnya beberapa jenis tanaman atau tumbuhan.
Bahkan, menurutnya, ada beberapa jenis tumbuhan sangat kurang di Sulawesi Selatan bahkan di Sulawesi.
"Kemudian belum ada tempat di sekitar kami, di Gowa, bahkan di sulsel yang menganisiasi atau mendorong menyelamatkan tumbuhan," bebernya.
Begitupula dengan masih kurangnya cerita dari tanaman untuk mendorong orang-orang di sekitar agar mengambil peran untuk menyelamatkan keberadaan hayati.
Sebelumnya, Denassa bercerita setelah menyelesaikan pendidikannya ia pernah mengajar di Fakultas Sastra Unhas Makassar pada tahun 2002 hingga 2007.
Pada tahun 2007, ia mulai menggagas Rumah Hijau Denassa. Alasannya karena mulai berkurangnya beberapa jenis tanaman atau tumbuhan.
"Mulai 2007 saya tinggalkan kampus dan memilih pulang ke kampung halaman di Gowa, karena dibutuhkan. Karena dulu waktu kecil sering menemukan jenis tumbuhan, mulai dari kuliah tapi mulai hilang sehingga butuh orang yang menyelamatkan tanaman tersebut," jelasnya.
Saat itu, ia mulai menanam membenih sebanyak 100 batang tektona grandis jati, tanam mahoni.
"Dulu banyak orang yang tidak mau tanam pohon karena lama panen. Tapi saya memberikan pemahaman ini bisa menjadi infestasi atau ekowisata dan menjadi habitat beberapa jenis hewan," jelasnya
Ada juga 170 pohon mahoni yang ditanam di RHD.
Sembari aktif di RHD, ia mengaku juga aktif di injio dan bermitra dengan beberapa pihak lainya.
"2014-2015 fokus untuk mengelola Rumah Hijau Denassa," ujarnya.
Dikatakan, penghargaan tersebut diusulkan dari tingkat kabupaten, porvinsi dan diusulkan ke pemerintah pusat ke Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
"Menurut mereka kami layak menerima penghargaan dan Alhamdulillah saya terpilih peraih Kalpataru tahun ini dan satu dari sepuluh orang terpilih Kalpataru tahun ini," ucapnya.
Kedepannya dia berencana melakukan kegiatan dengan kondisi di tengah pandemi Covid-19 seperti virtual trip.
"Jadi orang-orang di luar Sulawesi bahkan di luar negeri bisa ikut virtual tripnya Rumah Hijau Denassa," pungkasnya
"Sekarang hampir 4-5 tahun ini kami mengembangkan Rumah Hijau Denassa, dengan membuat Denassa Botanikal Garden. Untuk kawasan baru karena populasi atau jumlah tumbuhan yang ada dI RHD sudah padat dan menjadi hutan," sambung dia.
Selain itu pihaknya juga akan membuka area baru dengan bermitra dengan beberapa pihak. Pihaknya telah bermitra dengan konservasi sumber daya alam Sulsel dan Sulbar untuk membuat area konservasi di Malino.
"Sekarang di RHD sudah ada 500 jenis tumbuhan, sedangkan di Denasa Botanikal Garden ada lebih 100 tumbuhan dan area satunya lagi ada 50 jenis tumbuhan," bebernya.
Dia mengajak agar masyarakat menjaga dan menyelamakan keberagaman hayati.
"Indonesia adalah negara besar dan kaya, Indonesia adalah super power keberagaman hayati di dunia karena kita menjadi negara terbesar kedua setelah brazil. Kita harusnya menguasai bahkan mengedukasi negara-negara tentang keberagaman hayati. Kekayaan hayati kita itu bisa menghasilkan secara ekonomi, bisa menjadi penyembuh dan hal lainya," pungkasnya.
Dia menambahkan telah menyelamatkan 540-an tanaman lokal, endemik, dan langka sejak 2007 sampai sekarang baik di RHD, Denassa Botanical Garden luas keseluruhan lahan 5 Ha.
Profil Darmawan Denassa pendiri Rumah Hijau Denassa:
Nama lengkap: Darmawan Denassa:
Tempat tanggal lahir: Borongtala Kecamatan Bontonompo Kabupaten Gowa Sulawesi selatan,, 28 Juli 1976.
Nama istri: Alwiah Hasan, SP
Anak:
1. Muhammad Fadil Denassa
2 Asraf Muhammad Denassa
3. Ainiyah Mumtazah Denassa
4. Alisya Putri Denassa
Riwayat pendidikan:
SDN Center Rappokaleleng 1983-1989
SMP Negeri Bontonompo Gowa 1989-1992
SMEA Negeri Limbung Gowa, 1992-1995
Universitas Hasanuddin 1996 -2002
Penghargaan:
1. Bintang Sahabat Pena Sulsel 1995
2. Penghargaan Gubernur Sulsel sebagai pelopor Pengembangan Perpustakaan di Sulsel 2011
3. Kampung Iklim dari Kementerian Lingkungan Hidup RI 2013
4. Penerima Anugerah PAUD Nasional dari Kemendikbud RI sebagai Tokoh Peduli PAUD yang mengajarkan kecintaan pada alam sejak dini 2017
5. Penghargaan Gubernur sebagai Pendirian Kampung Literasi Borongtala 2017
6. Anugrah Gubernur atas Kontribusi pada Pembangunan Sulsel 2008-2018
7. Penghargaan Pemkab Gowa atas penyelamatan Keanekaragaman Hayati
8. Penerima Kalpataru sebagai Perintis Lingkungan 2021 dari KLHK RI.
Pengalaman oraganisasi:
Ketua Lembaga Dewan Perwakilan Mahasiswa (Deperma) Unhas 2000.
Ketua DPP Hikmah Gowa 2004-2005
Laporan Wartawan Kontributor TribunGowa.com, Sayyid Zulfadli
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/warga-bontonompo-gowa-meraih-kalpataru-bidang-perintis-lingkungan.jpg)