Breaking News:

Opini Tribun Timur

MUI: Kapabilitas dan Marwah Ulama dalam Sidang, Bukan Jawaban Personal di Atas Mimbar

Ketika umat membutuhkan jawaban masalah atau fatwa,mereka datang ke majelis ulama, bukan ulama yang memberi jawaban secara personal di atas mimbar

Editor: AS Kambie
MUI: Kapabilitas dan Marwah Ulama dalam Sidang, Bukan Jawaban Personal di Atas Mimbar
dok.tribun
Afifuddin Harisah, Akademisi UIN Alauddin Makassar/Pembina Pondok Pesantren An Nahdlah Makassar

MUI: Majelis, Maqaam, dan Muru’ah Ulama Indonesia
Oleh: Afifuddin Harisah
Pembina Pondok Pesantren An Nahdlah Makassar

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Secara historis, MUI atau Majelis Ulama Indonesia pada awalnya adalah lembaga sosial independen (semacam LSM) yang mewadahi ulama, zu’ama, dan cendekiawan Islam di Indonesia untuk membimbing, membina dan mengayomi kepentingan umat Islam di seluruh Indonesia. 

MUI berdiri pada tanggal 7 Rajab 1395 Hijriah, bertepatan 26 Juli 1975 di Jakarta.

Perwakilan ormas-ormas Islam dan beberapa tokoh ulama/cendekiawan bermusyawarah dan menghasilkan kesepakatan untuk membentuk wadah bermusyawarah para ulama, yang kemudian dinamai Musyawarah Ulama Nasional I

Aspirasi pendirian wadah musyawarah ulama yang pada akhirnya dinamai “Majelis Ulama Indonesia, disingkat MUI”, ini berangkat dari kegelisahan para ulama terhadap minimnya perhatian pada pembinaan keagamaan dan kesejahteraan rohani umat saat itu.

Energi pembangunan yang dilaksanakan pemerintah Orde Baru lebih banyak terkuras pada kepentingan kelompok dan golongan.

Peran ulama terfragmentasi pada sekat-sekat paham ideologi, organisasi  dan lembaga tempat bernaung mereka.

Ulama NU hanya bermain di zona NU, demikian pula Muhammadiyah, al-Washliyah, Perti, dan lain-lain. 

Berdirinya MUI diharapkan akan menjadi wadah pemersatu para ulama dan cendekiawan muslim dalam level nasional untuk melakukan peran dan tanggung jawab sosial keagamaan kepada umat Islam di Indonesia.

Peran dan tanggung jawab yang diharapkan tentunya memberikan bimbingan dan tuntunan beragama yang benar, memberikan fatwa mengenai masalah keagamaan dan kemayarakatan, membantu terwujudnya kerukunan antar umat beragama, dan menjadi mediator antara ulama dan umara (pemerintah), serta penerjemah timbal balik antara umat dan pemerintah guna mensukseskan pembangunan nasional.

Jelasnya di sini, MUI bukan ormas dalam arti ‘mainstream’ memainkan misi dan kepentingan kelompok tertentu, tetapi MUI adalah payung besar yang menaungi seluruh golongan dan rumah besar tempat perjuangan keumatan seluruh kelompok muslim di Indonesia.

Halaman
1234
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved