Breaking News:

Ingat Widodo? Kades yang Lawan Kapolsek saat Acara Dangdut Dibubarkan, Kembali Datangi Kantor Polisi

Kini kelakuan kepala desa yang diketahui bernama Widodo tersebut sudah beda. Ia kembali datangi kantor polisi.

Editor: Ansar
Tangkapan layar video viral via Tribun Pantura
Petugas Polsek Pegandon bersitegang dengan warga saat membubarkan acara dangdutan di Desa Kebonagung, Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal. Warga nekat menggelar dangdutan sebagai rangkaian tasyakuran HUT RI, Selasa (17/8/2021) malam. 

TRIBUN-TIMUR.COM - Masih ingat Widodo? kepala desa yang berani lawan polisi saat acara dangdutannya dibubarkan.

Kini kelakuan kepala desa yang diketahui bernama Widodo tersebut sudah beda. Ia kembali datangi kantor polisi.

Namun kedatangan Widodo terkait aksinya yang sudah viral di media sosial tersebut.

Dulu Widodo marah-marah ke petugas saat  pentas musik perayaan HUT RI dibubarkan petugas Polsek Pegandon.

Meski sempat marah, namun Widodo datang ke kantor polisi untuk minta maaf.

Sebelummnya, dalam video yang beredar seorang pria yang diduga merupakan kepala desa (kades) tidak mengindahkan apa yang disampaikan oleh petugas gabungan Satgas COVID-19.

Pria itu juga terlihat sempat bersitegang dengan Kapolsek Pegandon AKP Zaenal Arifin yang menghentikan acara pentas musik karena mengundang kerumunan dan melanggar PPKM.

Pasca videonya viral, Kepala Desa Kebonagung Kecamatan Ngampel, Kabupaten Kendal, Widodo didampingi Ketua Paguyuban,  Kepala Desa Kabupaten Kendal, Abdul Malik, beserta pengurus mendatangi Polsek Pegandon, Kamis (19/8/2021).

Kedatangannya ke Polsek dalam rangka silaturahmi dan ingin meminta maaf atas kejadian pada Selasa malam (17/8/2021) tersebut.

Kedatangan Kades Kebonagung tersebut untuk meminta maaf dan mengklarifikasi kepada Kapolsek beserta jajaran atas kejadian kurang mengenakkan pada hari Selasa malam (17/8/2021) kemarin.

Dikutip dari TribunJateng.com, permintaan maaf didasarkan karena masyarakat Kebonagung nekat menyelenggarakan tasyakuran saat PPKM masih berlangsung.

Permintaan maaf juga didasarkan adanya adu mulut antara kepala desa dengan aparat kepolisian yang dianggap seolah-olah terjadi penentangan aparat desa kepada kepolisian.

Menurutnya masalah yang terjadi hanya sebuah miskomunikasi.

Terkait awal mula viralnya video itu, Kades Kebonagung menjelaskan, pada awalnya ia tidak tahu jika warganya ada yang menggelar tasyakuran saat PPKM masih berlangsung.

Ia pun mengaku kaget ketika ada salah satu warganya melapor malam itu.

Sementara, ia tidak pernah mengizinkan apapun kegiatan yang megumpulkan massa sampai PPKM selesai.

"Dari jam 1 siang (hari kejadian,red), saya mengantar warga saya ke Semarang. Pulang Maghrib, sampai Balai Desa sudah Isya, sudah ada tamu. Ada yang izin hajatan bulan depan, saya tidak izinkan. Ada yang lapor hajatan, saya datang ke lokasi, saya lihat ada polisi, tetapi bukan kapolsek atau Bhabinkamtibmas Kebonagung di atas panggung," tuturnya.

Widodo mengaku saat kejadian melihat Bhabinkamtibmas Ngampel Wetan, Sudipayung, dan Dempelrejo di lokasi.

Namun, ia merasa tidak diberitahu soal penegakan aturan terhadap warganya.

Hal tersebut memicu adanya aksi adu mulut kades dengan aparat kepolisian, termasuk Kapolsek Pegandon yang naik ke panggung belakangan.

Atas dasar itulah, Widodo bersama Paguyuban Kades meminta maaf kepada jajaran kepolisian atas suatu kejadian yang tidak mengenakkan.

(Tribun-video.com/ TribunJateng.com)

 
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved