Taliban
Presiden Amerika Serikat Joe Biden Tak Sangka Tentara Afghanistan Tolak Berperang
Biden mengomentari kegagalan kolosal intelijen AS untuk memprediksi bahwa pemerintah Afghanistan akan jatuh begitu cepat.
TRIBUN-TIMUR.COM - Milisi Taliban kini menguasai hampir seluruh wilayah Afghanistan. Mereka meringsek masuk ke kota-kota penting Afghanistan setelah tentara Amerika Serikat ditarik ke negaranya.
Faktor lain cepatnya pergerakan Taliban adalah, enggannya tentara Pemerintah Afghanistan yang telah dilatih oleh Amerika Serikat, untuk berperang.
Hal itu tidak diprediksi para pejabat Amerika, termasuk Presiden Joe Biden.
Dalam wawancara dengan ABC News yang tayang pada hari Kamis (19/8/2021), Biden mengomentari kegagalan kolosal intelijen AS untuk memprediksi bahwa pemerintah Afghanistan akan jatuh begitu cepat.
Biden mengatakan bahwa laporan intelijen yang telah dia baca mengatakan bahwa keruntuhan akan lebih mungkin terjadi pada akhir tahun. Faktanya, Afghanistan jatuh ke tangan Taliban hanya kurang dari dua minggu.
"Pertanyaannya adalah benar tidaknya gagasan bahwa Taliban akan mengambil alih didasarkan pada premis yang telah dikemukakan, entah bagaimana, 300.000 tentara yang telah kami latih dan lengkapi runtuh begitu saja, mereka akan menyerah begitu saja. Tidak ada yang berpikir mengantisipasi hal itu," kata Biden.
"Ketika Anda menguasai pemerintah Afghanistan, pemimpin pemerintah itu naik pesawat, lepas landas dan pergi ke negara lain, ketika Anda melihat keruntuhan signifikan pasukan Afghanistan yang telah kami latih—hingga 300.000 dari mereka hanya meninggalkan peralatan mereka dan lepas landas, itu—Anda tahu, saya tidak—itulah yang terjadi. Itulah yang terjadi," papar Biden.
Kendati demikian Biden menepis kritik dari para pencela, yang baru-baru ini menyarankan bahwa keruntuhan pemerintah Afghanistan dapat dihindari dengan mempertahankan "kekuatan kecil" 2.500 tentara AS yang ditempatkan secara permanen di negara itu.
Dia menunjukkan perjanjian Doha telah membuat Washington menarik diri pada 1 Mei, dan bahwa Taliban menepati janjinya dan tidak menyerang pasukan AS setelah menandatangani kesepakatan damai 2020.
“Itulah sebabnya tidak ada yang terjadi,” kata Biden, merujuk pada serangan terhadap pasukan AS.
"Jika saya mengatakan, 'kita akan tinggal', maka sebaiknya kita bersiap untuk menempatkan lebih banyak pasukan," ujarnya.
Presiden mencatat bahwa AS telah menguasai bandara Kabul, dan sekarang dalam proses mengevakuasi warga AS dan mereka yang membantu administrasi pendudukan NATO.
Tentang evakuasi, Biden menegaskan, "Kami telah mengeluarkan 1.200 orang kemarin, beberapa ribu hari ini. Dan itu meningkat. Kami akan mengeluarkan orang-orang itu," katanya.
Dia menunjukkan bahwa AS berada di jalur untuk mengevakuasi sekitar 10.000-15.000 orang Amerika dari Afghanistan dengan batas waktu 31 Agustus yang ditetapkan sebelumnya, tetapi mengatakan bahwa perkiraan Stephanopoulos tentang 80.000 orang Afghanistan "terlalu tinggi".
"Perkiraan yang kami berikan ada di suatu tempat antara 50.000 dan 65.000 orang, termasuk keluarga mereka," imbuh Biden.(*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/makassar/foto/bank/originals/pasukan-khusus-taliban-red-group-atau-red-unit.jpg)