Tribun Makassar

Stok Obat Covid-19 Kosong Disejumlah Daerah Sulsel, Jeneponto Hanya Ada Oseltamivir dan Multivitamin

Beberapa diantaranya ialah oseltamivir, favipiravir, remdisivir, azytromicyn, tocilizumab, dan multivitamin.

Penulis: Siti Aminah | Editor: Sudirman
ist
Stok obat covid-19 Sulsel 

TRIBUN-TIMUR.COM, MAKASSAR - Sejumlah daerah di Sulsel kekurangan stok obat terapi Covid-19.

Beberapa diantaranya ialah oseltamivir, favipiravir, remdisivir, azytromicyn, tocilizumab, dan multivitamin.

Misalnya Kabupaten Bantaeng hanya tersedia favipiravir 560 tablet, remdisivir 50 injeksi dan 54.500 tablet multivitamin, obat jenis lainnya kosong.

Parahnya, hanya tersedia multivitamin sebanyak 21 ribu, obat jenis lainnya sama sekali tidak tersedia.

Kemudian di Kota Parepare hanya ada obat favipiravir 95 tablet dan multivitamin 36.680 tablet.

Hal sama terjadi di Kabupaten Jeneponto. Dimana jenis obat yang tersedia hanya oseltamivir 290 tablet, dan 4200 tablet multivitamin.

Jika dikalkulasi dari 24 kabupaten kota di Sulsel, jumlah oseltamivir yang tersedia hanya 15.140 kapsul.

Obat favipiravir sebanyak 4.617 tablet, remdisivir 164 injeksi, azytromicyn 11.215, tocilizumab hanya tersedia di Makassar 9 injeksi dan multivitamin 1.897.041 tablet.

Data diatas merupakan data Dinas Kesehatan Sulsel terkait situasi dan perkembangan pengendalian dan penanganan covid-19 Sulsel hari ke 507, Minggu (8/9/2021).

Sekretaris Ikatan Apoteker Indonesia Sulsel, Andi Alfian mengatakan, kekurangan stok obat covid mulai terjadi saat melonjaknya kasus Covid-19 Juni 2021 lalu.

Ia menilai produksi obat tidak diporsir dari awal sehingga saat tingginya kasus mengalami kekurangan produksi.

"Itu memang kelihatannya di luar prediksi dari pihak industri, itulah salah satu faktor yang menyebabkan terjadinya kelangkaan (obat covid-19)," beber Andi Alfian, Senin (9/8/2021) malam.

Apalagi proses produksi obat membutuhkan waktu yang panjang sekira tiga hingga empat bulan.

"Untuk kebutuhan obat mulai dari rencana pengadaan itu lama. Mesin kan kalau sudah dipakai harus dibersihkan, dikeringkan dulu sebelum dipakai dan itu bukan waktu sebentar butuh 3-4 bulan," ulasnya.

Untuk proses distribusi pemerintah telah menetapkan Kimia Farma sebagai distributor.

Saat awal naiknya covid-19 obat banyak dipusatkan ke Jawa-Bali.

Sehingga provinsi lain termasuk Sulsel mendapat jatah belakangan.

Untuk mekanisme pelaporan kekosongan obat, disampaikan oleh dinas kesehatan masing-masing daerah ke pemerintah pusat. 

"Tidak dilaporkan ke organisasi profesi sehingga kelangkaan yang ada sekarang sudah diketahui pemerintah pusat dan saya yakin pemerintah mengambil langkah-langkah," tutupnya. (*)

Sumber: Tribun Timur
  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved