Opini Tribun Timur

Menyikapi Arah Pertumbuhan Ekonomi Sulsel

Dalam kondisi normal saja, perilaku pertumbuhan sektor-sektor tersebut secara rata-rata tidak pernah melebihi di atas 20 persen.

Editor: AS Kambie
Menyikapi Arah Pertumbuhan Ekonomi Sulsel
DOK
Marsuki, Guru Besar FEB Unhas dan Chief Economist BNI WMK

Sedangkan pertumbuhan tertinggi secara (q to q) yakni Konsumsi pemerintah yang mencapai 82,06 persen, diikuti Ekspor, Investasi dan Konsumsi rumah tangga. Jadi semua komponen tumbuh positif pada triwulan II-2021 (q to q)

Tapi segera dengan catatan perbaikan data perekonomian tersebut oleh beberapa pihak, pelaku ekonomi khususnya termasuk akademisi bahkan politisi merasa ragu dengan keandalan data tersebut, karena mengaggap kurang sesuai fakta di lapangan.

Sehingga menganggap  bagaimana bisa pertumbuhan begitu tinggi sehingga empat sektor utama yang disebutkan di atas bisa tumbuh secara rata-rata hampir 40 persen dalam kondisi yang terasa berat dialami.

Dalam kondisi normal saja, perilaku pertumbuhan sektor-sektor tersebut secara rata-rata tidak pernah melebihi di atas 20 persen.

Kemudian, sektor yang sebelumnya jawara dalam masa pandemi, yakni Infokom dan Kesehatan kenapa justru hanya tumbuh rata-rata diatas 6 persen saja.

Oleh karena itu pihak terkait utama sepertinya perlu menjelaskan alasan dan fakta yang mendasari angka-angka pertumbuhan yang disampaikan tersebut agar dapat diterima secara logik oleh masyarakat terutama para pelaku ekonomi khususnya, sebagai pihak yang terlibat langsung dalam aktivitas perekonomian, supaya kemudian tidak menimbulkan persepsi kurang baik terhadap otoritas nantinya.  

Diakui bahwa bisa saja dalam periode triwulan II antara periode April hingga Juni, pertumbuhan ekonomi positif dari yang sebelumnya negatif sebagai dampak dari kebijakan pelonggaran aktivitas serta adanya support kebijakan dari otoritas.

Namun pertumbuhan tersebut tetap terbatas, diperkirakan tidak melebihi kisaran 2-4 persen.

Jadi hal yang dianggap benar dari dampak kondisi perbaikan ekonomi tersebut bahwa dalam memasuki triwulan III adalah merebaknya secara signifikan tingkat keterpaparan dan terutama jumlah kematian karena pandemic Covid.

Sehingga pemerintah benar harus mengambil kebijakan semakin memperketat berbagai aktivitas berupa kebijakan PPKM dari aturan sebelumnya yang cukup longgar.

Hal ini memang pilihan sulit, karena disadari bagaimanapun persoalan menjaga keselamatan hidup rakyat perlu diutamakan selain menjaga perkembangan ekonomi yang memang juga penting jika tidak ingin lebih memburuknya keadaan ekonomi masyarakat kedepannya.

Akhirnya, oleh karena itu pilihan kebijakan pengetatan yang dilakukan diawal triwulan III, Juli lalu diharapkan dapat lebih baik dan tepat, sehingga tidak perlu lagi memaksakan  mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi, cukup dengan kebijakan yang dapat menyeimbangkan antara kepentingan menjaga keselamatan kesehatan masyarakat dengan menjaga pemenuhan keselamatan hidup ekonomi masyarakat secara wajar.

Diperkirakan jika upaya kebijakan PPKM berhasil seiring dengan lancarnya program vaksinasi untuk meredam keparahan pandemic, maka kemungkinan perkiraan arah pertumbuhan yang wajar, hanya bisa dicapai dalam kisaran antara 2–4 persen pada triwulan III nanti.(*)

  • Berita Populer
    Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved